Pengelola Masjid

Sunday, July 13, 2025

MAKSUM: Pemeliharaan Allah

 Inspirasi #02

Maksum berasal dari Bahasa Arab diambil dari kata “ashoma atau ashama” dari akar kata “Ish- mah” artinya terpelihara yang dilekatkan menjadi salah sifat darii para Nabi dan Rasul Allah SWT. Kata maksum diulang sebanyak 13 kali dalam Al Qur;an.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maksum diartikan “terbagi, terpisah, tercerai, dan lepas, sedangkan secara istilah berarti bebas dari dosa.  Nabi dan Rasul adalah sosok manusia yang tentunya melekat juga sifat-sifat manusia umumnya. Namun Allah SWT “melindungi, menjaga, memelihara” para KekasihNya, untuk menjaga kemuliaan dan martabat mereka di mata umat manusia, dan menjadikannya contoh dan teladan yang baik dalam hidup dan menjalankan tugasnya dengan sempurna. Oleh karena para Nabi dan Rasul pembawa risalah Allah SWT, maka kesalahan yang dilakukan dapat menggugurkan risalah yang disampaikan. Beberapa sifat maksum atau pemeliharaan kepada para Nabi dan RasulNya ditunjukkan pada beberapa peristiwa yang dialami para Nabi dan RasulNya.

Pemeliharaan Allah kepada Nabi Muhammad SAW antara lain  diperintahkannya Nabi untuk tidak mengikuti perilaku dan perbuatan para orang-orang sekitarnya yang masih jahiliah. Firman Allah SWT: Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanah sholat, tunaikan zakat, serta taatilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (QS Al-Ahzab:33). 

Apakah Iman Keagamaan Harus Dibuktikan Secara Logis dan Ilmiah?

Muncul banyak pertanyaan yang disampaikan secara pribadi sebagai konsekuensi dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini secara spesifik bukan sebagai tanggapan langsung atas pokok-pokok bahasan, namun secara longgar berkaitan dan dapat memperkaya pembahasan. Salah satunya adalah pertanyaan berikut: “Apakah iman keagamaan harus dibuktikan secara logis dan ilmiah?” “Apa konsekuensinya jika gerakan “pembuktian iman secara logis dan ilmiah” terus dikampanyekan hingga sampai batas tertentu membentuk sikap keagamaan publik?” Untuk menanggapi pertanyaan ini, saya buat catatan berikut. Semoga bermanfaat.

MEMBUKTIKAN IMAN KEAGAMAAN SECARA LOGIS dan ILMIAH SAMA SAJA MENGUPAYAKAN KEBUTUHAN yang SAMA SEKALI TIDAK KITA BUTUHKAN.  

Upaya membuktikan iman secara logis dan ilmiah sering kali bermula dari niat untuk memberikan legitimasi rasional terhadap keyakinan religius. Di satu sisi, ini bisa dimengerti, terutama dalam iklim wacana publik yang semakin menuntut penjelasan berbasis sains dan logika. Namun di sinilah muncul cacat penalaran pertama: iman dan ilmu berada dalam ranah epistemik yang berbeda. Ilmu pengetahuan berdasar pada observasi, verifikasi, dan replikasi, sedangkan iman bersandar pada kepercayaan, pengalaman batin, dan komitmen eksistensial. Ketika iman dipaksa mengikuti kerangka pembuktian empiris, ia tidak menjadi lebih kuat, justru kehilangan ciri khasnya sebagai bentuk penghayatan yang mendalam. Misalnya, ketika seseorang mencoba membuktikan mukjizat melalui eksperimen laboratorium atau perhitungan statistik, yang terjadi bukan peneguhan spiritual, melainkan reduksi makna menjadi data yang bisa—dan sering kali harus—diperdebatkan. Dalam hal ini, iman bukan dikuatkan, tapi dilemahkan oleh metode yang tidak selaras dengan wataknya.

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...