Pengelola Masjid

Friday, May 9, 2025

TAK ADA YANG TAK MUNGKIN

Banyak yang tak percaya bahkan mencemooh ketika Gajah Mada menyatakan sumpahnya, HAMUKTI PALAPA, ingin mempersatukan wilayah Nusantara menjadi satu kesatuan di bawah panji Wilwatikta (nama lain Majapahit). Apa mungkin menyatukan ribuan pulau membentang dari Barat ke Timur yang dilintasi selat, laut, bahkan samudera? 

Keteguhan membuat yang tak percaya menjad kagum. Kegigihan membuat yang pernah mencemooh terbungkam mulutnya. Sumpah itu terwujud justru ketika Gajah Mada masih hidup. Panji2 Majapahit berkibar meliputi hampir sebagian wilayah Nusantara, Semenanjung Malaka, Tumasek, hingga Madagaskar. Indonesia yang sudah gonta-ganti presiden sebanyak 8 kali berhutang budi pada Gajah Mada, orang kampung yang tak ditetahui asal-usulnya, bahkan tak tahu kuburnya di mana. Ternyata, di dunia ini tak ada yang tak mungkin. 

Tak ada yang tak mungkin, ketika para tokoh Banua Permai bercita-cita sederhana, mendirikan tempat ibadah bernama Langgar Darul Amanah dengan puluhan jamaah, kini menjadi sebuah masjid yang mampu menampung 700 – 1.000 jamaah (terutama saat ibadah Nisfu Sya’ban dan shalat ied).

Dan, ternyata tak ada yang tak mungkin,bila kemudian ada masjid tetangga yang lebih muda usianya lebih bergairah dari masjid kita. Warga Cempaka Sari banyak berjamaah ke Babur Royan di Komplek Pelangi Jaya Lestari. Sebagian warga Surya Kencana menyeberang ke Al-Ikhlas di Komplek Bumi Cahaya Bintang. 

Jika sebuah tempat ibadah ingin diukur keberhasilannya, maka tolok ukurnya sedehana: banyak jamaah yang shalat di sana. 

Dulu, ketika masjid raya Sabilal Muhtadin baru diresmikan Presiden Soeharto pada 1981, berbondong-bondong orang ingin berjamaah ke sana. Orang Kapuas rela merogoh koceknya untuk mencarter speedboat, berangkat pagi-pagi sekadar ingin merasakan salat Jumat di masjid megah di tepi Sungai Martapura, walaupun hanya sekali saja. Setelah itu tertinggal cerita.

Ada kalanya, masjid diserbu karena ada kegiatan pengajiannya. Maka, beramai-ramai orang datang ke masjid Jami Banjarmasin demi ingin mendengar tausiyah Guru Zuhdi atau KH Husin Nafarin. Masjid raya Sabilal Muhtadin semakin terangkat pamornya dengan ceramah Al-Ustadz Rafi’i Hamdi. Dan, tentu saja tak ada tolok bandingnya, ketika mushala kecil di tengah2 perkampungan Sekumpul, diserbu jamaah untuk alasan mengharap berkah dari pengajian Al-Alamah Guru Sekumpul.

Masjid ibarat sebuah warung. Kemegahan warung tidak menjadi faktor utama. Orang rela antre berjejal di depan warung kumuh, karena menu yang disajikannya. Menyelusup ke bawah jembatan hanya untuk mendatangi SBY (Soto di bawah Jembatan) yang konon lezat cita rasanya, diselingi alunan musik panting sebagai penghiburnya. Analogi ini menempatkan jamaah masjid sebagai pelanggan dan pengurus masjid sebagai pelayan sekaligus pelanggan. Menunya adalah pengajian, tausiyah, dan khutbah, berbumbu suara lantang muazin dan indahnya qira’atil Qur’an yang dilantunkan sang imam. Selingannya adalah peringatan maulid Nabi, isra mi’raj, tahun baru Islam, Tajkirah Ramadan, dan manyumbalih sapi pada hari raya qurban.

Warung kita ini sedang berbenah. Manager baru menerapkan pola bottom up; masing-masing bidang diminta mengajukan program, yang disebut sidin Rencana Induk Pengembangan Masjid, disingkat RIPMA untuk target capaian 5 tahun.  

Dalam RIPMA itu masih tersaji menu lama, seperti Tajkirah, HBI, Ibadah Qurban. Ada pula varian menu baru yang ditampilkan oleh Bidang Ibadah dan Dakwah yang diawaki A. Said, dengan tampilnya khatib, ustaz, dan habaib dalam pengajian subuh. Di Bidang Pendidikan, Pak Subchan merencanakan pelatihan zakat, manajemen masjid, dan kursus memandikan jenazah. Bidang Asset, Om Iril, dkk mulai sibuk mendata asset masjid yang tak jelas tempatnya. Bidang Remaja dan Peranan Wanita bertekad mendukung semua kegiatan dengan mengerahkan potensi generasi muda dan wanita dalam kegiatan2 Masda.

Ide nan semlohai digagas oleh Bidang Humas yang dikomando Bang Hatta: membuat Stasiun Pemancar Radio Dakwah Darul Amanah. Jika cita2 ini terwujud, maka Radio Al-Karomah bakal ada pesaingnya. 

RIPMA yang luar biasa tentu saja milik Pak H. Nasir,dkk. Bidang Pembangunan ingin meneruskan sukses program bantuan hibah provinsi dengan membangun menara pantau setinggi 17 meter, rehab atap masjid, halaman, rumah imam/kaum, dan pengadaan permadani yang membuat batis tinggalam. Dananya tidak tanggung-tanggung, 1,5 milyar! 

Tak ada yang tak mungkin, insya Allah, dengan dukungan para pelanggan warung kita akan makin berkembang (El Salami).

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...