Pengelola Masjid

Friday, May 16, 2025

MENCINTAI

 Serba-Serbi #15

Masalah cinta menjadi pembicaraan menarik dalam filsafat. Cinta oleh para sufi ditafsirkan dengan kata-kata yang sangat indah dan agung. Cinta merupakan penyatuan antara suka, senang, sayang, dan kasih. Mencintai berarti menyukai, menyenangi, menyayangi, dan mengasihi.  Kalau suka adalah ketertarikan terhadap sifat-sifat yang dimiliki seseorang, maka senang adalah perasaan gembira atau bahagia atas keberadaan seseorang yang diharapkan. Kalau sayang adalah ketertarikan secara personal, maka kasih adalah ketertarikan secara universal dan lebih luas. Cinta tumbuh diawali dari rasa suka, senang, kemudian berubah menjadi sayang  dan dengan waktu tumbuh menjadi kasih.  Cinta didefinisikan sebagai perasaan yang sangat kuat dan dalam, melibatkan keintiman, komitmen, tanggung jawab, perhatian yang dalam terhahap seseorang atau sesuatu.  Mencintai merupakan fitrah dan kodrat manusia. Cinta anugerah

yang diberikanNya. Allah SWT berfirman: Dijadikannya indah pada (pandangan) manusia kecintaannya kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emaas, perak, kuda pilihan, Bintang-bintang ternak dan swah ladang itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Al-Imran:14).  Cinta menuntut ketulusan sehingga mencapai keabadian. Mencintai bukan sekedar nafsu, tetapi menuntut  keikhlasan, kesabaran, dan ketabahan. Bukan seperti motto anak muda yang sering kita dengar : Cinta ditolak, dukun bertindak. Subhannallah.   

Berkat anugerah cinta-mencintai, manusia berkembang biak dari Adam. AS  dan Hawalah yang melahirkan kemudian Habil dan Qabil, dari 2 orang yang terus bertambah sampai sekarang berjumlah 8,2 milyar. Firman Allah SWT: Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan pada keduanya Allah memperkembang biakan laki-laki dan premmpuan yang banyak (QS. An-Nisa: 1).

Para cendik-pandai membagi cinta dalam beberapa jenis antara lain cinta kepada Allh SWT, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada orang tua, cinta kepada istri/suami/anak-anak, cinta kepada sesama (seagama, sesuku, sebangsa). Namun cinta kepada Sang Khalik, Allah SWT harus diatas segalanya. Nabi SAW bersabda: Hiduplah sesukamu, maka sesungguhnya kamu akan mati; cintailah sesuatu sesukamu, maka kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu, maka sesungguhnya kamu akan bertemu denganNya (HR. Hakim). Hadits yang lain  dari Anas RA, Nabi SAW bersabda: Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim). Romatisme cinta melahirkan banyak karya. Cerita cinta banyak ditulis dari jaman ke jaman. Sebut saja Siti Nurbaya, kisah kembang desa (gadis), nan cantik yang dikawinkan paksa dengan saudagar kaya Datu Maringgih;  Laila Majnun, cerita seorang gadis yang cintanya tidak kesampaian sehingga gila; Cleoparta, gadis penggoda, membuat raja tidak berkutik. Pada tahun 1980an terbit cerita cinta dosen kepada mahasiswa seperti Cintaku di Kampus Biru, Karmila dan lainnya. Pada tahun 2000an muncul buku dan film yang bercerita cinta anak manusia bernuansa Islam antara lain Cinta Bertasbih, Malaikat Cinta, dan Dilan.  Seorang sufi bernama ‘Amr bin Utsman, dalam Kitabnya Mengenai Cinta menyatakan: Setiap hari Allah memperlihatkan 360 kali kurnia dan memperdengarkan 360  kata cinta kepada sukma. Setiap hari diperlihatkaNya 360 kegembiraan silaturahmi kepada hati. dan 360 keindahan kepada rahasia (Dikutib dari Warisan Para Aulia, Fakhruddin Attar, 1983).  Firman Alla SWT : Katakanlah (Muhammad): _Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS Al-Imran:31). Cetusan cinta Siti Chadijah binti Khuwailid kepada Rasulullah menjadi contoh cinta yang tulus dan setia, yang tidak tertandingi se panjang masa sehingga Nabipun sulit melupakan Sayyidah Chadijah, walaupun Rasulullah mempunyai istri yang lain. Pada saat-saat akhir hayatnya, Sayyidah Chadijah berkata sambil memandang wajah Rasulullah: Wahai Rasulullah, aku ada satu permintaan !. Nabi SAW menjawab: Wahai Istriku tercinta, Apa yang kau minta, katakanlah ?. Sayyidah Chadijahpun dengan mata berkaca-kaca berkata: Wahai Rasulullah, andai aku wafat dan perjalanan dakwahmu harus menyeberangi lautan atau sungai. Ambillah tulang- belulangku untuk kau jadikan jembatan penyeberangan.  Nabipun terharu dan menangis mengingat betapa mulianya hati Siti Chadijah yang selama mendampingi Rasulullah telah mengorbankan hartanya dari seorang saudagar kaya raya, prempuan cantik, terkenal, terpandang di kaumnya kemudian menjadi “orang biasa” di akhir hayatnya dan masih terpikir untuk berkorban kepada perjuangan Nabi SAW dengan tulang belulangnya. Masya Allah. Tabaraqallahu fii kum.    

Banjarbaru, 16 Mei 2025: 11.00 Wita.

Muhamamd Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...