Pengelola Masjid

Saturday, May 24, 2025

HUMOR

 Serba-serbi #21

Humor, ibarat makanan adalah bumbu dalam kehidupan, termasuk dalam rumah tangga. Dalam khasanah kalangan sufi, dikenal nama Abu Nawas seperti disebutkan Ust. H. Muhammad Ahyad Arsyad pada Kajian Kitab, Subuh Jumat 23 Mei lalu. Abu Nawas yang nama aslinya Abu Ali Hasan bin Hani Al-Hakami, seorang penyair sufi dan tokoh agaman yang lahir di Persia (Iran). Kisah Abu Nawas dikenal sebagai cerita “1001 Malam”.  Di kalangan Jamaah Masjid Kita, ada beberapa yang suka melontarkan joke-joke jenaka atau cerita lucu. Humor sebagai budaya timur. Penyampaian sindiran atau nasehat oleh para guru atau kiyai sering dibalut dengan humor sehingga lebih enak dan nyaman di dengar dan mudah diterima. Humor dapat memperpanjang umur. kata seorang Dokter. Orang yang suka humor menjadi awet muda karena senyum atau ketawa dapat menghilangkan kerut-kerut muka, kata ahli Kesehatan.  Pada hakekatnya, humor  adalah hikmah yang dapat kita petik sebagai ilmu sekaligus obat hati yang lara menjadi gembira, ria, lapang, dan nyaman. 

Beda bahasa bisa jadi humor.  Humor ini tentang seorang mahasiswa Batak (kita sebut saja Joki) sekolah ke Yogya, pertama datang langsung ke warung makan mbok Jum. Di tengah sibuk dan riuhnya pengunjung terjadi dialog yang lucu antara Mas Joki dan Mbok Jum.  Kata Mas Joki:  Es Teh Bu !; Mbok Jum menjawab : Pun Telas Den! (Sudah habis Mas); Mas Joki  dengan gaya soknya menimpali : Ya bu pakai gelas!; Mbok Jum dengan  sedikit kesal menjawab : Pancen edan (memang gila nih); Mas Joki sambil senyum menjawab: Ya Bu saya dari Medan !  Salah paham sering terjadi karena orang-orang tua dulu tidak paham bahasa Indoensia, para pendatang belum mengerti bahasa Jawa.

Humor tentang penjual anak Itik (sebut saja Pak Dul) dengan orang Jawa (sebut saja Joko) yang baru datang di Amuntai. Di tengah pasar yang ramai  terjadi dialog antara Pak Dul dengan Mas Joko.  Mas Joko tanya dengan Bahasa Jawanya yang medok : Opo sih bedo lanang karo wedo’ pak? (Apa sih bedanya laki sama prempuan? ;  Pak Dul dengan gayanya yang sok tau  menjawab: Yaa, bisa aja berenang, tapi kada laju (Bisa berenang, tapi lambat).  Orang-orang disekitarnya jadi pada ketawa.  

Kondisi sosial dari masyarakat bisa juga jadi humor.  Misalnya semakin padatnya Kalimantan oleh penduduk dari Jawa atau peristiwa konflik Sampit 2001 lalu melahir humor,  tetapi in sekedar humor, kelakar, guyonan. Dikisahkan pada suatu perjalanan kapal laut dari Surabaya ke Banjarmasin yang sarat dengan muatan pada saat di tengah laut terjadi gelombang besar (badai). Kapten kapal memanggil para penumbang yang lagi panik. Kapten kapal menanya kepada seorang penumpang dari Madura: Hei, bapak bawa apa?, Sapi pak ! : jawab si Madura. Ijin kita buang ke laut ya pak untuk ke selamatan kita bersama, Kata Kapten. Sapipun dibuang dilepas ke laut. Kemudian Kapten tanya kepada penumpang lain dari Sunda (Jawa Barat): Maaf, bapak bawa apa?. Dijawab sama si Sunda: Sayur dan Buah pak ada 20 truk?.  Pak Kapten Kembali meminta ijin untuk sayur dan buah beserta truknya dibuang ke laut untuk ke selamatan kapal. Tibalah pada giliran orang Banjar. Kapten bertanya kepada si orang Banjar: Hei pak Haji, kamu bawa apa? _ Si orang Banjar menjawab: Saya bawa teman urang Jawa pak ada 300 orang.  Si Kapten sedikit panik karena kapal sudah oleng, dengan tergesa-gesa Sang Kapten bilang:Silahkan bapak buang !.  Cerita ini just kidding hanya guyon pelipur lara.  

Kisah ini bertepatan saat terjadnya peristiwa Sampit belum lama berselang. Pada rute penerbangan dari Surabaya ke Jakarta terdapat seorang penumpang memaksa duduk di kursi paling depan, tetapi tidak sesuai dengan nomor kursi pada tiket yang harusnya di belakang. Berulang-ulang pramugari sampai Sang Pilot meminta dan menjelaskan bahwa tempat duduk si bapak tersebut adanya di belakang. Sementara penumpang yang punya nomer kursi di depan tidak mau ditukar dengan tempat lain.  Namun si bapak tetap menolak dan ngotot tidak mau pindah.  Ditengah kebingungan, tiba-tiba ada seorang anak muda yang juga penumpang mohon ijin kepada Sang Pilot untuk membantu. Hanya beberapa menit, dengan berbisik si anak muda ke pada si Bapak, tiba-tiba saja si Bapak mau pindah. Sang Pilot dan para pramugari  bingung dan penasaran. Lantas bertanya kepada si pemuda tersebut apa yang dibisikannya. Si pemuda tersenyum dan ketawa kecil terus bekata:  Saya Cuma bilang kepada si bapak bahwa kursi depan untuk tujuan Sampit, kalau mau ke Jakarta pindah ke belakang. Rupa-rupanya si bapak berasal dari Madura.  

Beda keyakinan bisa jadi humor. Suatu hari diperjalanan kereta api Gus Dur satu tempat duduk dengan Romo Mangun. Romo memesan masakak dengn lauk daging babi. Kata Romo: Monggo Gus ini makanan paling enak di dunia. Gus Dur menimpali: Silahkan, saya tidak boleh karena haram bagi sya babi. Romo Mangun tersenyum karena dapat mengalahkan Gus Dur.  Namun begitu sampai di stasiun Gus Dur dijemput istri dan anak-anaknya. Gus Dur pamit ke Romo sambil bilang: Maaf Romo, saya dijemput isteri saya. Romo ngga dijemput istri ?.  Romo bilang: Saya ngga punya istri, karena pastur ngga boleh kawin. Gus Dur menimpali : Wahh, rugi Romo, padahal itu daging mentah paling enak se dunia. Kisah lain antara Pendeta dengan Tuan Guru yang satu pesawat dalam perjalanan. Tuan Guru ditanya apa enaknya sunat dengan tidak disunat. Tuan Guru menjelaskan panjang lebar, tetapi si Pendeta merasa belum puas karena ayat-ayat dan hadits yang dikemukakan Tuan Guru baginya asing. Seorang pramugari datang menawarkan kueh dan pisang ambon kepada penumpang. Sang Pendeta dan Tuan Guru masing-masing menyantap pisang ambon. Lantas Tuan Guru berkata kepada teman Pendetanya: Makan pisang enak dikupas kulitnya begitu yaa? Pendetapun menjawab: Iyaa lah, mana enak kalau nga dikupas !. Tuan Gurupun menimpali sambil senyum: Yaa, memang orang yang disunat, tentu merasakan lebih enak daripada tidak disunat seperti makan pisang yang dikupas dulu. Sang Pendetapun senyum sembringah   

Humor yang lucu membuat orang lain terhibur dan bahagia serta dapat menghilang rasa penat, suntuk, dan bosan. Di Jakarta dulu, kata orang mau ketawa harus bayar karena beli tiket untuk masuk Gedung Srimulat.  Humor dibolehkan dalam Islam, selama bersifat positif.  Firman Allah SWT: Dan sesungguhnya Dialah yang membuat orang tertawa dan menangis (QS An-Najm:43). Kisah Nabi dan para sahabatnya menunjukkan humor, anekdote atau kelakar itu ada. Hanya saja kelakar para Nabi dan Aulia mengandung hikmah dan pelajaran. Kisah berikut masyhur di kalangan ulama. Pada suatu waktu Iman Al Ghazali bertanya kepada murid-muridnya: Benda apakah yang paling tajam di dunia?.  Jawaban dari murid-murid beliau bermacam-macam. Ada yang menjawab pisau silet, pedang sampai sembilu (kulit bambu yang ditajamkan). Sang Imam menanggapi jawaban murid-muridnya dan mengatakan: Betul semua benda yang engkau sebutkan tersebut tajam. Tetapi ada yang lebih tajam dari itu semua, yaitu lidah!. Demkikian, kalau orang berilmu atau ulama berkata atau bercerita, dia menjadi hikmah. _Masya Allah. Lahaula wala quwata illa billah.        


Banjarbaru, 24 Mei 2025

Muhammad Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...