_Serba-serbi #24_
“Menjemput Maut” demikian judul salah satu buku karya Imam Al Ghazali dari sekian ratus buku yang ditulisnya. Diterjemahkan tahun 1999 dan dicetak ulang beberapa kali. Bukunya yang paling masyhur tentu Ihya Ulumuddin. Kematian dan matahari, tidak dapat ditatap terus, ungkapan masyarakat modern. Persoalan maut menggugah setiap orang, tetapi sekaligus menakutkan. Pada tausyiah Minggu Subuh 25 Mei kemarin, Al Ustadz Habib Hafidz bin Abdullah Al Qodri mengatakan bahwa setiap hari sebanyak 70 kali bolak-balik Malaikal Izrail, pencabut nyawa mendatangi setiap orang. Menakutkan karena persiapan tabungan, simpanan, sangu amal kebaikan bagi setiap orang merasa sangat sangat minim sehingga tidak memadai untuk mencapai yang disebut surga.
Dalam HIkayat Sufi yang ditulis Syaikh Muhammad Abu al-Yusr ‘Abidin (1997) diceritakan ada seorang yang bernama Makhul, sehari-harinya bersedih, menjelang kematiannya tertawa. Lantas seseorang menanya: _Mengapa engkau tertawa?._ Dia menjawab: _Telah dekat waktu perpisahan dengan yang ku takutkan dan perjumpaan dengan ku harapkan_. Seorang Arab Badui (suku pedalaman) tertimpa sakit. Seseorang mengatakan kepadanya: _Sesungguhnya engkau akan mati?_ Dia kemudian berkata: _Kemanakah aku akan dibawa pergi?_. Mereka menjawab: _Menemui Allah._ Arab Badui tersebut menjawab: _Bagaimana aku akan benci untuk pergi menemui Zat yang tidak pernah kulihat kebaikan, kecuali dariNya._
Persolan maut bagi para sahabat Nabi, memang dijempaut antara lain melalui perang memperjuangkan Islam. Para prajurit yang maju di Perang Uhud adalah para prajurit yang juga ikut perang Badar, tidak takut mati, malah yang dicari adalah mati karena wafat dalam perang adalah surga karena mati dalam syahid, seperti yang dikatakan Habib Muhammadbin Umar Al-Hiyyid pada Subuh Kamis, 29 Mei barusan.
Nusaibah binti Ka’ab, contoh seorang muslimah yang fenomental dan monumental dalam Sejarah Islam. Pada saat waktu itu Nusaibah sedang berada di dapur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh tentera musuh karena pada saat itu terjadi ketegangan di Kawasan Gunung Uhud. Singkat cerita Nusaibah membangunkan suaminya yang sedang tidur. Said sang suami yang belum sadar tersentak kaget dan langsung mengenakan pakaian perangnya (Kalau sekarang mungkin bisa diidentikan pergi untuk bekerja, berdagang, bertani dan sebagainya). Nusaibahpun menyerahkan sebilah pedang sambil berkata: _Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang’, pintanya dengan penuh haru._ Said langsung terjun ke medan perang. Di satu sudut Rasulullah melihatnya dan tersenyum. Nusaibah di rumah dengan kedua anaknya yang bernama Amar berumur 15 tahun dan Saad berrumur 13 tahun menunggu dengan berdebar-debar, Tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang sangat gugup berkata kepada Nusaibah: Ibu, salam dari Rasullulah. Kemudian disampaikanlah berita duka: _Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid_. Nusaibah tertunduk sebentar sambil berguman: _Innaliillahi… suamiku telah menang, Terima kasih yaa Allah._ Setelah itu Nusaibah memanggil Amar dan tersenyum kepadanya: _Wahai anakku Amar, kau lihat ibu menangis, bukan sedih, ayahmu syahid. Maukah engkau melihat ibumu bahagia_. Amar mengangguk. Hatinya berdebar. _Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlan bersama Nabi,_ kata Nusaibah_ _Terimakasih ibu, ini yang aku tunggu_, kata Amar.
Dihadapan Rasulullah, Amar mengenalkan diri sebagai putranya Said, datang menggantikan ayahnya yang telah gugur. Nabipun memeluk Amar. Nursaibah menunggu berita sang Anak, datang seorang utusan yang mengatakan anaknya gugur menyusul bapaknya. Nusaibahpun meremang buluk tengkuknya: _Hai utusan. Ijinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang._ Dihadapan Nabi, Nusibah mendapatkan penjelasan untuk membantu di bagian perawatan. Pahalanya sama saja dengan pertempuran, kata Nabi.
Namun, saat dia memberi obat seorang prajurit terluka, tiba-tiba terpercik darah di rambutnya. Seketika itu, Nusaibah juga melihat kepala seorang prajurit Islam tergolek terbabat senjata musuh. Bangkitlah hati pejuangnya, dia tidak dapat menahan gemuruh hatinya dengan gagah berani diambilnya pedang prajurit yang tewas. Dia naiki kudanya. Lalu bagaikan singa betina ia mengamuk. Puluhan jiwa musuh tumbang. Namun suatu waktu seorang musuh mengendap dari belakang dan melukainya, 12 luka dia derita. Diapun syahid dalam perang Uhud tersebut.
Demikian para sahabat menjemput maut. Nusaibah tercatat dalam haditsnya Rasulullah berkata: _Dalam perang Uhud, setiap kali aku menoleh ke kiri maupun ke kanan, aku melihat Nusaibah binti Ka’ab sedang berperang untuk melindungiku_ (Ibnu Said dalam Kitab Thabaqatnya). Firman Allah SWT: _Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup disisi Tuhannya mendapat rezeki_ (QS Ali ‘Imran: 169). Pada ayat yang lain dikatakan: _Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati, sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya_ (QS. Al Baqarah: 154).
Dalam keadaan damai dan tidak ada peperang, maka bekerja dengan Ikhlas untuk mendapatkan rezeki termasuk berjihad di jalan Allah. Nabi SAW bersabda: _Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil, dan siapa saja yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah_ (HR. Ahmad). _Allahuma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidana Muhammad._
Banjarbaru, 29 Mei 2025
Muhammad Noor
No comments:
Post a Comment