Serba-Serbi#10
Ikhlas kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dipraktekan. Kata ikhlas dari bahasa Arab “khalasa” atau “khales” yang diartikan sebagai sungguh-sungguh atau dengan tulus. Ikhlas diartikan juga murni, bersih, atau suci dari segala campuran. Dalam pandangan Islam, ikhlas berarti melakukan sesuatu dengan niat tulus atau murni, semata-mata untuk mendapatkan rhida Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, imbalan, atau pamrih dari manusia. Kata para ulama, ustadz, atau guru, ikhlas adalah syarat diterimanya amal kita. Menurut pak Tulus (bukan nama sebenarnya), teman diskusi di Masjid Kita, Ikhlas tidak perlu dinyatakan, diungkap, atau diucapkan. Apabila diungkapkan atau diucapkan, maka hilanglah sifat Ikhlas tersebut atau menurut anak muda sekarang “nothing tulus”, tidak ada keikhlasan.
Ikhlas memurnikan hati dan tujuan sehingga setiap amal ibadah dan perbuatan baik hanya bertujuan karena Allah. Setiap insan atau hamba dituntut untuk Ikhlas. Ikhlas menjadi prasyarat seorang hamba untuk dapat dekat dengan Allah dan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat. Ikhlas merupakan syarat utama dalam melakukan ibadah. Firman Allah: Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah. Ikhlas mentaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus lagi benar(QS Al Bayyinah:5).
Surah ke 112 dalam Kitab Suci Al-Qur’an diberi nama Al Ikhlas. Kita sering menyebutnya “Kulhu” surat pendek dan paling mudah dihafal. Rata-rata anak TK sekarang sudah hafal surat ini. Banyak mualaf terinspirasi surah ini sehingga memeluk Islam. Menurut Achmad Chodjim, penulis buku berjudul Al_Ikhlas: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (2000) menyatakan turunnya surah Al Ikhlas, di Mekkah, tempat orang-orang musyrik, penyembah berhala, dan jahiliyah (suka jahat, jahil, dzalim). Surah Al-Ikhlas, merupakan perintah untuk melakukan perubahan atas keyakinan (politisme) dari penduduk Mekkah waktu itu kepada monotisme, yaitu keesaan Allah dan hanya ada Satu Kekuasaan. Allahu Ahad. Allahu Shamad, Allah Yang Maha Esa, Allah yang Kekal (QS Al-Ikhlas:1-2). Dalam menjalankan misi keislaman (tauhid), Nabi selalu ditantang dan ditawari antara lain: kekayaan, jabatan, prempuan dan sebagainya. Suatu hari di hadapan Kabah di Mekkah, Nabi SAW didatangi oleh Utbah bin Rabi’ah, paman Nabi sendiri yang berkata: Hey Muhammad, kalau kau mau harta kekayaan kami akan kumpulkan, kalau mau pangkat atau kedudukan, kami angkat kamu sebagai pemimpin sehingga kami tidak akan memutuskan sesuatu kecuali bersamamu, Dan jika apa yang terjadi padamu ini pengaruh jin, dan kau tak kuasa menolaknya, biarlah kami carikan dukun yang mengobatimu. Kami korbankan harta benda kami demi kesembuhanmu”. Setelah Utbah selesai bicara. Nabi Muhammad SAW pun bersabda: Sekarang dengarkan aku, Wahai Abul Walid (panggilan Utbah). Kemudian turunkah Surah Al-Fussilat:1-5 sebagai jawaban (Dikutib dari Buku Pribadi Muhammad, ditulis oleh Dr. Nizar Abzahah, 2013). Allah SWT menegaskan kepada Nabi SAW dengan firmanNya: Katakanlah (Muhammad): Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan YME, karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepadaNya dan mohonlah ampunan kepadaNya. Dan celakalah bagi orang-orang yang mepersekutukannya (QS Al Fussilat:6). Kisah di atas menunjukan kepribadian Nabi Muhammad SAW yang tidak tertarik sedikitpun kepada hal duniawi dan tetap berpegang teguh pada keyakinan dan keikhlasan.
Konsep yang diajarkan Islam untuk pengakuan (keyakinan) akan Allah Yang Maha Esa bersifat pemurnian, maka diperlukan landasan keikhlasan. Konsekuensi dari konsep tauhid tersebut menuntut bahwa apapun yang dilakukan tidak ada tujuan lain, kecuali hanya karena Allah semata, tidak ada kepentingan pribadi, tidak untuk dapat pujian, pengakuan, atau keuntungan duniawi lainnya. Dari landasan ketauhidan yang ditanamkan oleh Nabi Muhamamd SAW inilah kemudian lahir pejuang-pejuang Islam yang tangguh, para syuhada, dan bersikap istiqomah, seperti Umar bin Khatab, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Khalid bin Walid, Salman Al Farisi dan lain sebagainya. Di Indonesia muncul Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, dan lainnya. Umat Islam meraih kebesaran dan kemuliaan dari dasar ketauhidan yang dilandasi “keikhlasan”.
Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa nilai surat Al Ikhlas sama dengan sepertiga Al Qur’an. Nabi bersabda seperti dinukil Abu Darda, Ubaidillah, Sabit, Annas RA, para sahabat Nabi: Apakah seorang diantara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al Qur’an dalam semalam”. Para sahabat menjawab: Bagaimana kami bisa membaca seperti Al Quran (30 juz, 114 surah) ?. Lalu Nabi bersabda: Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan seperti Al Qur’an (HR. Muslim).
Di ceritakan, seorang imam sholat yang selalu membaca surah Al Ikhlas diadukan kepada Rasulullah SAW. Lantas Nabi SAW meminta kepada sahabatnya untuk menanyakan apa alasannya?. Kemudian diperoleh jawaban, karena suka dengan surat Al-Ikhlas. Maka Nabipun bersabda: “Sampaikan padanya bahwa Allah menyukainya”. Pada kesempatan lain, Nabi bersabda: Kecintaanmu kepada surat Al-Ikhlas, dapat memasukanmu ke surga (HR Bukhari; Muslim, Nasai). Masya Allah, baru melantunkannya saja sudah mendapat privilage, sebuah keistimewaan, apalah lagi dapat mengamalkan, mempraktekan, atau mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Waalahu ‘alam bish shawab.
Banjarbaru, 10 Mei 2025
No comments:
Post a Comment