Pengelola Masjid

Tuesday, May 13, 2025

AMASDA

 Remaja masa kini acap kali diidentikkan dengan kebebasan dan hura-hura. 

Namun, di panggung sejarah, perannya tidak bisa dipandang sebelah mata hanya karena mereka menyandang label anak muda. Muhammad Al Fatih sukses merebut Konstantinopel dan meruntuhkan kekaisaran Romawi Timur adalah anak muda berusia belasan tahun. Dalam usia setara anak SD Kelas III, Hayam Wuruk sudah naik takhta dan dalam usia relatif muda—karena  belum menikah—ia sukses memimpin negara besar bernama Majapahit. Politik divide it impera rekayasa Belanda tentu akan lebih subur sekiranya tak ada keberanian anak-anak muda yang tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatren Bond, Jong Borneo, Jong Celebes mengikrarkan Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928. Dan, Indonesia tak tentu merdeka pada 17 Agustus 1945, jika tak ada anak-anak muda yang nekat menculik Bung Karno dan Bung Hatta, lalu membawa mereka ke Rengas Dengklok untuk membuat pernyataan Proklamasi. 

Pemuda, menurut Bung Karno, memiliki kekuatan 100 kali lipat dibanding para orang tua. Matematika ini diketahui dari pidato beliau yang berapi-api pada tahun 1959: “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Gunung Semeru sampai keakar-akarnya. Dan, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!" 10 x 100 = 1.000. Lalu, kalau ada yang protes, “Ah, Gunung Semeru kan hanya skala Jawa?” Tapi, kalau berhasil mencabutnya, bukankah beritanya mengguncangkan dunia? Klop.     

Kalimat hiperbola ini menjadi semacam cambuk yang mengajak para pemuda untuk berada di garda terdepan dalam membangun bangsa (baca: menghidupkan masjid). Faktanya memang demikian. Yang tua-tua tak bisa berbuat banyak tanpa bantuan anak muda.  Anak muda sigap menyiapkan dan membereskan takjil buka puasa. Mereka siap bongkar pasang tenda untuk jamaah yang meluber sampai ke halaman. Para remaja mengatur parkir kendaraan dan menata sandal jamaah di teras masjid. Merekalah yang sanggup naik ke atap masjid untuk memasang spanduk. Dus, kemana lagi pengurus masjid dan PIQ minta bantuan membanting sapi untuk disembelih pada hari raya qurban?  

Peran itu demikian dijaga, sehingga dalam komposisi kepengurusan Masda 2021 – 2025 terdapat Seksi Remaja Masjid. Kepada Ketua Masda (waktu itu Prof. M. Noor) ulun sarankan, Apakah tidak sebaiknya Remaja Masjid ini kita jadikan organisasi otonom yang independen? Maka, pada 23 Rajab 1444 Hijriyah, berdirilah Angkatan Muda Masjid Darul Amanah (disingkat AMASDA). Dan, dalam komposisi Badan Pengelola Masda 2025 – 2029, Seksi Remaja Masjid berganti nama Bidang Pembinaaan Anak dan Remaja (PAR), sami mawon. AMASDA tetap ada. Tujuannya sederhana: Mendekatkan mereka pada masjid.

Di beberapa masjid, organisasi Remaja Masjid ini demikian eksis. Kendati tidak neben (sejajar), tapi secara struktural mereka untergeordnet (di bawah dan sehaluan dengan visi dan misi organisasi masjid), seperti GP Anshor dan Fatayat NU di organisasi NU, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah di organisasi Muhammadiyah. Dengan begitu, pola regenerasi akan terpelihara, karena merekalah pemegang estafet selanjutnya. Dulu, Om Dadan dan Om Bambang adalah remaja masjid pada masanya. Kini, mereka menjadi Pengelola Inti Masda yang sudah teruji kapasitasnya 

(El Salami)

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...