Salah satu program takmir periode 2021 – 2025 yang belum terlaksana adalah perpustakaan masjid. Dewan Masjid menyarankan agar masjid memiliki perpustakaan. Koleksinya bisa dimanfaatkan merintang waktu menjelang shalat atau bakdiahnya, seperti yang biasa dilakukan Pak Aswan atau Ust. Jazuli. Modalnya tidak banyak. Cukup sediakan lemari etalase di pojok masjid. Buku-bukunya bisa minta bantuan jamaah yang punya buku bekas (syukur buku baru). Pak Ketua setuju. Orang pintar memang tidak harus minum Tolak Angin, tapi membaca. Ini perintah Tuhan pada kata pertama ayat Al-Qur’an yang paling pertama diturunkan: Iqra’.
Lima belas abad lampau, Malaikat Jibril menyuruh Nabi, “Iqra! (baca!)” Nabi SAW menjawab, “Ma ana bi qari’ (aku tak bisa membaca).” Mendengar jawaban itu, lalu Jibril memeluk Nabi dengan sangat erat. Setelah Jibril melepas pelukannya, kembali keluar perintah “Iqra!” Sampai tiga kali, Nabi tetap memberikan jawaban yang sama, barulah Malaikat Jibril membacakan wahyu yang dibawanya.
Potongan cerita yang terjadi di Gua Hira
pada malam Nuzulul Qur’an itu mengingatkan umat pentingnya membaca, sehingga Nabi mendorong para sahabat agar belajar baca-tulis! Kaum Kafir Quraisy tawanan Perang Badar yang mampu baca-tulis dimerdekakan, jika bersedia mengajarkan kemampuannya itu kepada para sahabat. Upaya itu dibarengi dengan turunnya sabda tentang kewajiban menuntut ilmu bagi kaum muslimin muslimat dari buaian hingga ke liang lahat. Hasilnya sungguh luar biasa. Motivasi Nabi, tekat para sahabat, ditambah kesungguhan umat, peradaban Islam maju pesat. Kemajuan itu terjadi sejak zaman Rasulullah, Khulafaurasyidin, Daulah Umayyah, hingga mencapai puncaknya pada masa Daulah Abbasiyah.Namun, setelah Daulah Abbasiyah diruntuhkan oleh tentara Mongolia, banyak literatur penting dibakar, dijarah, atau dibawa melintasi Gurun Gobi hingga perbatasan Tiongkok sana. Apakah ini yang menjadi dasar munculnya ajakan kepada para pengabdi ilmu agar uthhubul ilma’ walau bishin, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina? Jika benar, maka menuntut ilmu adalah membaca, karena referensi penting banyak diangkut ke sana.
Dari mana orang-orang pintar masa Daulah Abbasiyah sekolah, karena waktu itu belum ada fakultas yang membuat mereka pintar? Buya Hamka tidak pernah duduk di bangku kuliah, tapi mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa, karena membaca. Bung Karno, insinyur teknik tapi menguasai ilmu politik dan tata negara, karena gemar membaca. Adam Malik banyak belajar secara otodidak namun sukses menjadi diplomat, Menteri Luar Negeri, Ketua MPR/DPR, bahkan Wakil Presiden, karena hobi membaca.
Dan, ketika Ketua Masjid menegaskan kembali dukungannya dengan menyatakan, “Nanti kita anggarkan pembuatan etalase, aku kenal dengan pembuatnya. Kapan perlu kita sediakan ruang khusus perpustakaan di samping paimaman, ok, Pak Takmir?”
Ketua Takmir hanya mengangguk seraya tersenyum, tapi di hatinya timbul tanda tanya, “Mampukah buku melawan HP?”
HP adalah buah teknologi yang memberikan fungsi informasi luar biasa. Dari berita fakta, fake, internet troll, sampai hoax semua ada. Ia juga menawarkan aplikasi edukatif: ada makhluk serbatahu bernama Google, kamus berbagai bahasa, sastra berupa-rupa, karya ilmiah berbagai nama. HP juga menyajikan fungsi rekreatif: google play dengan aneka games, google film menyajikan aneka film, google book menawarkan karya-karya fiksi dan nonfiksi. Mau belanja, bayar pajak, hingga pinjam uang, cukup dengan aplikasi. Belum lagi hiburan youtube hingga karaoke.
Ketergantungan pada HP, menurut kategori J. B. Horrigan (2000), sudah termasuk heavy users (pengguna dengan intensitas tinggi). Asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia tahun 2016 melaporkan bahwa, 69,8% dari 132,7 juta pengguna internet adalah remaja. Bangun tidur bukannya cuci tangan, gosok gigi, tapi cari HP. Walaupun ada imbauan untuk menonaktifkan HP di dalam masjid, habis shalat bukannya memetik tasbih, tapi membuka HP. Takmir tak bisa melarang, karena HP itu miliknya, bukan inventaris masjid.
HP telah menjadi kebutuhan primer. Walaupun ia memberikan akses yang luar biasa bagi informasi, komunikasi, dan edukasi, tetapi rentan juga terhadap eksploitasi. Fitur-fitur positif-negatif, halal-haram ditawarkan bebas, seperti pasar hewan di Tomohon. Tidakkah disebabkan kontaminasi medsos, remaja 15 tahun tanpa merasa berdosa membunuh anak 5 tahun, karena terinspirasi adegan pembunuhan dalam film yang bisa diakses via youtube? Ada remaja yang nekat berkendara lepas tangan di jalan raya tak takut bahaya hanya untuk keperluan membuat konten.
“Bagaimana, Takmir?” desak Ketua Masjid lagi. Jam di masjid menunjukkan waktu isya tinggal hitungan menit.
Ketua Takmir masih diam. Ekor matanya melirik sekelompok anak dan remaja yang sibuk dengan gadget asyik mabar dari aplikasi games. Ada juga beberapa jamaah yang berwirid dengan tasbih di tangan dan yang khusyu mengaji lewat HP beraplikasi Al-Qur’an.
“Insyaallah, Pak Ketua,” jawab Ketua Takmir sambil berdesah. Ia tampak khawatir bila lemari perpustakaan hanya menjadi etalase pajangan.
“Mampukah buku melawan HP?” Pertanyaan ini mengiringi lantunan azan, tapi masih belum terjawab, hingga Ketua Takmir lengser dari jabatan dan Ketua Masjid jadi Ketua Yayasan (El Salami).

No comments:
Post a Comment