Pengelola Masjid

Friday, May 9, 2025

YAKINLAH

 Serba-Serbi #8

Yakin, dalam Bahasa Inggris disamakan dengan sure. Sering diucapkan orang asing kepada kita  Are You Sure?  Apakah benar ?. Biasanya dijawab Yes. Kata yakin dari bahsa Arab ditulis pakai huruf qap Yaqin identik dalam bahasa Indonesia dengan benar, pasti, manjur, mujarab, atau dipercaya. Kata yakin sering terlontar dalam sehari-hari apabila kita meragukan atas sesuatu apakah itu informasi, data, barang  atau berita yang disodorkan.  Yakin merupakan pekerjaan hati disebut juga dengan iman atau percaya. Apabila masih terbesit sedikit keraguan, maka disebut zhann (praduga, prasangka). Jika masih setengah atau fifty-fifty, tingkat kepercayaan 50%, maka disebut syak dan apabila lebih banyak keraguannya maka disebut wahm. Imam al_Jurjani (dari bukunya at-Tarifat: Definis atau Batasan) menyatakan yakin adalah benar-benar percaya (100%) atas hal-hal yang gaib dengan dihilangkannya sikap ragu-ragu. 

Kata yakin dan yang seakar (sinonim), dalam Al Qur’an terdapat sebanyak 28 kali, 14 kali sebagai kata kerja dan 14 kali sebagai kata benda, menunjukkan keseimbangan.  Yakin menurut Al Qur’an dapat dipilah dalam 3 kategori:  (1) ilmul yaqin, keyakinan yang terbentuk karena pengetahuan. Tingkat dasar keyakinan, misalnya karena mendengar ceramah, kuliah, atau membaca buku sehingga tercerah hingga terbenam dalam hati suatu kepercayaan; (2) ainul yaqin keyakinan terbentuk karena  pengalaman. Misalnya yakin bahwa yang disuguhkan adalah madu karena telah melihat dan mencicipinya langsung; dan (3) haqqul yaqin, keyakinan tertinggi karena pernah mengalami perjalanan atau pengalaman spiritual yang mendalam sehingga merasakan benar-benar kehadiran Allah SWT melalui ibadah, zikir, perenungan (khalwat), seperti yang dialami para sahabat, wali, aulia, dan para mualaf. 

Yakin, merupakan sikap yang tidak mucul tiba-tiba, mendakak, sekonyong-konyong, tetapi sikap yang dibangun atau dibentuk dalam waktu yang relative panjang. Sikap yakin bagi seseorang dapat terbentuk dengan ilmu pengetahuan yang kuat dan/atau pengalaman yang panjang. Amr Khaled (2008), seorang ustadz muda, saintis, pendakwah, kelahiran 1967, di Mesir dalam bukunya YAKIN, mengungkapkan  Yakinlah, maka jiwamu akan terang; Yakinlah, maka semuanya akan terwujud; dan Yakinlah, Allah akan senantiasa menolongmu. Masya Allah. Manusia memang makhluk yang unik, tetapi mudah panik (membingungkan). Ketika susah, menderita, banyak masalah, maka mereka yakin kepada Allah. Namun ketika senang, semua tercukupi, ia berpaling, lupa kepadaNya. Al Mukarrom Guru Zuhdi Banjarmasin pernah mengatakan banyak ibadah kita yang masih diniatkan kepada dunia seolah-olah tidak yakin atas kebesaran dan kekuasaan Allah. Kita sholat dhuha karena ingin kaya. Kita banyak sholawat karena ingin banyak rezeki, banyak uang. Kaya atau uang adalah dunia, dimana akhiratnya ?, kata Guru Zuhdi. Padahal kita dianjurkan untuk melakukan segala sesuatunya karena Allah dari hati (keyakinan) yang paling dalam. Kalau hanya sampai dibibir, maka berarti perbuatan (ibadah) kita belum mampu menjadi sinar atau penerang dalam kehidupan, kata Amr Khaled.       

Dalam tasawuf (ilmu hakekat), istilah yakin merujuk kepada ketetapan hati atau ketebalan iman kepada Allah berdasarkan ilmu yang tidak berubah, tidak bisa dibolak-balik, dan tidak lenyap atau berubah ketika ada argumen yang meragukan atau mengoncangkan.   Sahabat Nabi, Saidina Ali bin Abi Thalib berkata: Bahkan sekalipun selubung antara yang tampak dan tidak tampak diangkat, keyakinanku tidak akan bertambah”  Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Jika seseorang mempunyai keyakinan yang kuat, pasti ia dapat berjalan di atas air”.   

Keyakinan tercapai melalui penitian jalan panjang (salik) berbekal pengetahuan yang mumpuni, observasi, dan perenungan (khalwat). Yakin merupakan maqam spiritual yang dicapai dan dialami oleh orang-orang yang melewati jalan ma’rifat atau mengenal Allah. Allah SWT berfirman: Dan sembahlah TuhanMu sampai yakin (ajal) datang kepadamu (QS. Al Hijr: 99). Dalam hal ini, Al Qur’an memberitakan tentang Nabi Ibrahim AS (QS, Al Baqarah: 258-260)  dan Nabi Musa AS (QS. Al- A’raf: 143) yang meminta (bukti) kepada Allah SWT agar termasuk kepada hambaNya yang benar-benar beriman (yakin). Dalam dialognya Ibrahim kepada Allah dinyatakan,  Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum percayakah Engkau ?. Dia (Ibrahim) menjawab: Aku percaya, agar hatiku tenang (mantap), Allah berfirman: “Kalau begitu ambilah 4 ekor burung, lalu cincanglah dan kemudian letakan di atas masing-masing bukit satu per satu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera” Ketahuilah bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Bijaksana. (QS, Al Baqarah: 258-260).  Nabi Ibrahimpun, akhirnya semakin yakin.  Dan dialog Musa AS kepada Allah SWT dinyatakan: Ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah ditentukan.. .. Musa (berkata): “Ya TuhanKu, tampakanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau”. Allah berfirman : ”Engkau tidak akan sanggup melihatKu. Namun llhatlah ke gunung itu, jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihatKU”. Maka Ketika TuhanNya menampakan (keagunganNya) kepada gunung itu, gunung itupun hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata: Mahasuci Engkau, aku bertobat kepadaMu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman” (QS. Al- A’raf 143). 

Para mufasir berpendapat bahwa cerita para Nabi seperti di atas dan cerita lainnya di Al-Qur'an hanya sebagai tamthil (dibaca: tamsil), perumpamaan, pembelajaran, lesson learn, bukan fiktif sebagaimana dirundungkan (bully) pihak yang tidak paham. Cerita di atas menunjukkan keraguan seorang Nabi,  Kekasih Allah merupakan fitrah manusia awam, Nabipun ditunjukkan mempunyai rasa ragu.  Oleh karena itu, maka untuk membangun keyakinan memerlukan pengetahuan melalui pandangan yang benar dan peristiwa yang nyata. Selain itu, diperlukan kapasitas pemikiran yang benar dan seimbang, kemurnian niat, kecerdasan dalam membaca tanda-tanda eksistensi Allah dari nama dan  sifat-sifatnya serta ciptaanNya. Keyakinan eksistensi (adanya) Allah SWT ditunjukkan Nabi SAW kepada sahabatnya *Abu Bakar RA tatkala situasi kritis dalam pengejaran kaum kafir Qurais untuk dibunuh pada saat di dalam Gua Tsur.  Abu bakar berkata: Wahai Muhammad,  seandainya salah satu dari mereka menengok ke dalam gua ini, tentu mereka mengetahui kita disini”. Nabi SAW kemudian menenangkan Abu Bakar dengan berkata: Apakah engkau lupa? , Wahai Abu Bakar, kita tidak berdua saja, ada Allah bersama kita (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).  Masya Allah. Allahuma sholli ala Muhammad. Wallahualam bis shawab.

Banjarbaru, 07 Mei 2025: 07.15 WITA

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...