REKOR artinya hasil terbaik. Istilah ini biasa disandingkan dengan kata BARU, menjadi REKOR BARU, karena ada pembanding: REKOR LAMA. Walaupun bukan barang pecah belah, ternyata barang ini bisa juga pecah. PECAH REKOR artinya rekor baru lebih baik dari rekor lama. Maka, 9 ekor sapi dan 1 ekor kambing adalah adalah rekor baru, karena berhasil memecahkan rekor qurban tahun lalu, 8 ekor sapi (termasuk sapi nyasar itu). Ini untuk ukuran masjid kita. Jangan bandingkan dengan masjid Istiqlal Jakarta yang tahun lalu berhasil menghimpun 72 ekor hewan qurban atau masjid Al Jihad Banjarmasin dengan 91 hewan qurban.
Apakah kerja PIQ tahun ini lebih baik dari tahun lalu? Tidak juga. Orangnya yang itu-itu juga. Publikasinya begitu-begitu saja. Kendati nilai tukar rupiah atas dollar AS terus melemah, biaya qurban juga sama. Maka, konklusi yang paling obyektif adalah: semangat berqurban masyarakat kita dari tahun ke tahun semakin meningkat. Ini fakta yang wajib kita syukuri.
Fakta lain terungkap juga bahwa, peningkatan jumlah shohibul qurban (SQ) justru terjadi justru menjelang injurity time masa pendaftaran. SQ yang datang belakangan banyak yang berasal dari luar Komplek. Alasannya: quota qurban di masjid terdekat tempat tinggal mereka sudah penuh. Atas niat baik itu, PIQ Masda menerima dengan lapang dada disertai catatan kecil: “Kita daftar saja dulu, tunggu sampai 7 orang. Bila tidak tercapai, dengan terpaksa kita masukkan daftar tunggu untuk qurban tahun depan.” Calon SQ itu setuju, bahkan bersedia menyetorkan ONH eh maaf, maksudnya OBQ (Ongkos Biaya Qurban) untuk pelaksanaan ibadah qurban tahun depan.
Mutasi temporal untuk ibadah qurban masih lumrah terjadi. Apalagi, PIQ tidak mempersoalkan domisili yang tertera pada KK atau KTP. Beda dengan ibadah haji. Sebelum E-KTP berlaku, tidak sedikit calon jamaah haji asal Kalsel—dengan alasan quota—mendaftar di Kalteng. Sekarang tentu tidak bisa, kecuali harus masuk daftar antrean, waiting list
Quota memang diperlukan, karena menyangkut dua alasan: kapasitas tampung dan kualitas penanganan. Betapapun antusias umat Islam untuk beribadah haji meningkat, tapi Pemerintah Arab Saudi lebih mengutamakan keselamatan dan kenyamanan jamaah. Kapasitas fisik di area ibadah, seperti Masjidil Haram dan Padang Arafah terbatas. Belum lagi penanganan yang harus melibatkan personil yang banyak untuk melayani jamaah. Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, calhaj harus menunggu antrean sampai 30 tahun, untuk jamaah reguler.
Saat ini, ibadah qurban di masjid kita tidak terkendala tempat. Banyak opsi yang bisa dijadikan tempat penyembelihan dan pembersihan hewan qurban utama dan alternatif. Tapi, penanganan? Ini yang perlu pertimbangan. Pekerjaan penyembelihan dan pembersihan hewan qurban merupakan tugas profesional. Kita memiliki tenaga terbatas untuk pekerjaan itu.
Lantas, perlukah kita membatasi quota?
Sepertinya tidak perlu, karena PIQ Masda masih ingin menciptakan rekor baru. Semoga. (El Salami).
No comments:
Post a Comment