Pengelola Masjid

Sunday, May 25, 2025

MAMPIR NGGUYU

 Serba-serbi #22

“Mampir Ngguyu” istilah masyarakat Yogya dalam menyikapi kehidupan. Kata “ngguyo” dari Bahasa Jawa artinya ketawa. Ngguyu adalah ekspresi rasa atau hati untuk menunjukkan rasa senang atau geli terhadap sesuatu yang lucu atau aneh. “Urip Mung Mampir Ngguyu”  sebuah konsep atau pandangan  hidup. “Urip Mung Mampir Ngguyo” diambil menjadi judul buku bunga rampai tahun 2022, untuk memperingati Ulang Tahun ke 60  Butet Kartiredjasa, seorang seniman, budiawan, penulis. Kenyataan hidup, yang dinilai cuma sebentar dan sekedar untuk ketawa ditunjukkan oleh seorang tokoh legendaris Abu Nawas di Iran, Palui di Kalimantan Selatan (dulu ceritanya mengisi kolom di Banjarmasin Post), Bondet di Jawa Timur (dulu mengisi kolom pojok di Jawa Post), atau mungkin juga termasuk yang disebut Mukidi. Hidup untuk ketawa, atau ketawalah biar tetap hidup.  Bedanya kalau Abu Nawas memang ada dan nyata, maka Palui, Bondet, Mukidi nama0nama fiktif, khayalan, atau dunia maya.

Nabi Muhammad SAW, oleh para sahabatnya dinilai termasuk orang yang senang berkelakar atau bercanda atau istilah kerennya mempunyai “sense of humor” yang tinggi. Menarik apa yang dikelakarkan Nabi SAW dengan para sahabatnya.  

Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslm dari sahabat Abu Hurairah AS. Rasulullah menuturkan pada saat ketika perhitungan amal (hisab) selesai, orang-orang muslim yang tadinya berbuat jahat di neraka dikeluarkan, dan semua hamba Allah (termasuk si pendosa tersebut) yang pernah menyembahNya ditempatkan di surga. Namun, ada seseorang yang yang berdiri diantara surga dan neraka dengan wajah menghadap ke neraka. Orang ini memohon kepada Allah dengan penuh iba: Yaa Tuhan, palingkanlah mukaku dari neraka. Baunya meracuniku dan jilatan apinya membakarku. Allah pun berfirman: Wahai pulan, apakah setelah kupenuhi permintaanmu. Engkau tidak meminta yang lain nantinya?. Si pulan menjawab : Tidak Wahai Tuhan, Demi keAgunganMu.  Lantas Allah berfirman: _Janji ?. Si Pulanpun menjawab: Janji. Maka Allahpun memalingkan wajahnya ke surga. Begitu melihat surga si Pulanpun terkesima dan terdiam lama sekali. Kemudian memohon kepada Allah: Yaa Tuhanku, dekatkanlah aku ke pintu surgaMu. Allahpun berfirman: Bukankah kau sudah berjanji tidak akan meminta selain yang kau minta barusan. Si Pulanpun berkata: Ya Tuhan, aku tidak ingin menjadi makhluk yang paling celaka di antara makhluk-makhlukMu. Allahpun berfirman:  Apakah setelah kupenuhi permintaanmu ini. Engkau tidak meminta yang lain lagi nantinya ?. Si Pulanpun menjawab kembali: Ya Tuhan, Aku berjanji tidak meminta yang lain. Namun setelah si Pulan memperhatikan betapa indah dan gemerlapnya surga, diapun memohon untuk bisa masuk ke surga.  Allahpun memasukannya ke surga. Allah lantas bertanya kembali: Apakah masih ada keinginan yang lain? Kemudian Allah satu persatu menyebutkan apa yang  sekiranya diingininya. Semua yang disebut Tuhanpun dia inginkan. Ketika semua harapannya tuntas dikabulkan. Allahpun berfirman: Itu semua untukmu, ditambah lagi semisal itu!. Masya Allah.  Hikmah cerita ini, menunjukkan betapa licik dan lobanya manusia dan betapa Agung dan Pemurahnya Allah terhadap hambaNya yang bernama manusia.  

Sahabat Nabi, Umar bin Khatab yang terkenal garang, ternyata pernah berkelakar. Pada suatu kesempatan di Masjid, Saidina Umar memdapati seorang lelaki yang sedang sholat di Masjid dengan sangat cepat dan tergesa-gesa (Ingat dengan anjuran ustad Muhammad Jazuli Minggu padi ini tadi). Setelah selesai laki-laki tersebut  berdo’a: Yaa Allah, kawinkanlah aku dengan bidadariMu. Mendengar doa lelaki tersebut Umarpun berkata: Hei, bro. mas kawinmu terlalu kecil untuk lamaranmu yang begitu besar.   

Salah seorang sahabat Nabi, Nu’aiman, termasuk orang yang ikut dalam Perang Badar. Di kalangan sahabat, dikenal suka berkelakar. Pada suatu hari, , Nu’aiman berjalan-jalan di pasar. Kemudian terbesit dalam pikirannya untuk menghadiahi Nabi seguci madu. Nu’aiman menyuruh si penjual madu untuk mengantarkan madu tersebut kepada Nabi sambil mengatakan kepada si penjual : Nanti kamu minta juga uang harganya yaa !.  Mendapatkan hadiah madu dan tagihan harganya, Nabipun berkomentar: Ini pasti ulah laku si Nu’aiman lagi. Nu’aimanpun dipanggil dan ditanya: Kenapa hal ini kau lakukan?. Dengan kalem Nu’aiman menjawab: Saya ingin berbuat baik kepada Anda  Wahai Rasulallah, tetapi saya tidak punya apa-apa. Nabipun tersenyum, tidak marah, dan memberikan uangnya kepada si penjual madu tersebut. Masya Allah. Bukan main, begitu tulus dan baiknya Nabi kepada sahabatnya.  Dalam perjalanan yang dipimpin Abu Bakar RA, Nu’aiman kehabisan makanan sehingga meminta kepada Suaibith, tetapi Suaibith menolaknya.  Nu’aimanpun berpikir untuk membalasnya. Tiba rombongan pada sebuah dusun, Nu’aiman mendatangi beberapa orang dusun tersebut dan berkata: Adakah kalian yang mau membeli budak? Saya punya budak yang sehat dan rajin. Lihat itu disana sambil menunjukkan tangannya ke Suaibith. Orang-orang dusunpun tertarik. Begitu transaksi jual beli terjadi Nu’aimanpun berkata: Budakku itu banyak tingkah dan pandai bicara. Mungkin nanti budakku akan berkata saya ini bukan budak. Saya orang Merdeka. Apabila karena itu kemudian kalian melepaskannya, maka tidak usah kalian beli. Orang dusunpun akhirnya percaya dan setuju. Nu'aiman menerima 10 ekor unta sebagai hasil penjualan.  Orang dusunpun beramai-ramai mendatangi Suaibith. Karuan saja Suaibith kaget dan marah. Orang dusunpun berkata bahwa dia sudah dibeli. Suaibithpun menolak bahwa dia bukan budak, tetapi orang=orang dusun sudah kemakan omongannya Nu’aiman. Sebagai ketua rombongan, Abu Bakar AS  dilapori kejadian tersebut. Abu Bakar RA dan beberapa sahabat kemudian menemui orang-orang dusun tersebut untuk menjelaskan perkaranya seraya menyerahkan unta yang diterima Nu;aiman. Orang dusunpun menyerahkan Suaibith. Ketika rombongan Kembali ke Madinah, peritiwa Nu’aiman dan Suaibith diceritakan kepada Rasulallah SAWm beliaupun tersenyum dan tertawa.

Seorang sahabat Abdullah bin Umar bin Khatab, pernah menggoda tetangga dekatnya. Abdullah berkata: Aku diciptakanoleh Pencipta manusia-manusia yang mulia,   sedangkan kau diciptakan oleh Pencipta manusia manusia yang jahat. Karuan saja mendengar ucapan tersebut si tetangga marah dan menangis sejadi-jadinya. Sementara Abdullah bin Umar sendiri tertawa geli.      

Memperhatikan cerita kelakar dalam kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya, tampak suasana kehidupan yang sangat menyenangkan, riang, damai, tentram; ruhui rahayu kata urang Banjar; atau enjoy kata orang sekarang.  Walaupun hidup hanya sekilas, sekedar minum  segelas kopi, atau sejenak tertawa (ngguyu), tetapi tetap nikmat dan menyenangkan. Bukankah, begitu yang kita dambakan ?. Semoga Amiin Yaa Robal Alaamin    


Banjarbaru, 25 Mei 2025

Muhammad Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...