Serba-Serbi #17
Hari ini tepat tanggal 20 Mei dinyatakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sejarah mencatat, tepat 20 Mei berdirinya Budi Utomo, suatu organisasi pemuda pertama di Indonesia pada tanggal 20 Mei 1908 yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan semangat nasionalisme dan persatuan sehingga menjadi tonggak peringatan Kebangkitan Nasional. Budi Utomo didirikan oleh Dr. Sutomo bersama teman-temannya di STOVIA (Sekolah Kedokteran Tinggi) di Batavia sekrang disebut Jakarta. Kita bersyukur, gerakan pemuda tidak pernah padam dengan kesabarannya para pemuda kembali bangkit menyatakan sikap “bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu” Indonesia tepat pada 28 Oktober 1928, kurang lebih 10 tahun kemudian dari Kebangkitan Nasional. Setelah hampir 17 tahun kemudian cita-cita tersebut baru tercapai dengan diproklamirkannya kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sebuah kesabaran tinggi yang dimiliki bangsa Indonesia dalam menapaki jalan perjuangan untuk merdeka.
Kesabaran banyak dicontohkan pada Nabi dan RasulNya dalam Al Qur’an. Misalnya Nabi Ibrahim AS untuk dibakar hidup-hidup. Dalam sidang Raja Namrud yang menjadi penguasa Negara Shinar (Mesir), Ibrahim AS diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya karena merobohkan sesembahan atau berhala mereka (QS. Al-Anbiya:57-68). Namrud memerintahkan kepada pasukannya untuk membakar Ibrahim di lapangan umum dengan ditonton masyarakat umum. Cerita menarik antara burung pipit dan cicak saat Nabi Ibrahim dibakar. Seekor burung pipit datang berulang-ulang mengambil air dan meneteskannya di kobaran api yang membakar Ibrahim. Cicak yang melihat aksi si pipit tertawa, sambil berkata: _Hai Bro, alangkah sia-sia dan dungunya yang kamu lakukan itu. Paruhmu yang kecil hanya mampu menghasilkan beberapa tetes air saja. Mana mungkin dapat memedamkan api itu?_ Kemudian pipit menjawab: _Hei Cicak, memang tak mungkin aku dapat memadamtakan api yang besar, tapi aku tidak mau kalau Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai dizholimi, Allah tidak akan memandang hasilnya. Apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak?, tetapi Allah Ta’ala akan melihat dimana aku berpihak_. Masya Alllah. Pelajaran yang dapat diambil dari sikap burung pipit tunjukkan bahwa usaha adalah wajib dilakukan, tetapi hasil Allah SWT lah yang menentukan. Cicak terus tertawa dan sambil menjulurkan lidahnya ia berusaha meniup api yang membakar agar cepat membesar. Allah melihat, kemana cicak berpihak (Dikutib dari Daarut Tauhid). Allah menjelaskan peristiwa ini dengan penyataan yang sangat indah hasil dari sebuah kesabaran hakiki. _Yaa kuni bardan waa salaman ‘ala Ibrahim; “Wahai api dingin dan selamatkanlah Ibrahim_ (QS. Al=Anbita: 69). Selama 7 hari 7 malam Ibrahim dibakar hingga api padam bukan hangusm bahkan Ibrahim keluar dari sisa-sisa kebakaran dengan kedinginan.
Kisah lain, tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam “drama qurban”, yaitu penyembelihan terhadap Ismail; anak simata wayang yang diharapkan sebagai generasi pelanjut bagi Ibrahim; Dialog Ibrahim dengan Ismail menjadi “cerita paling haru sepanjang masa” yang biasa dikhotbah para khatib saat Idul Adha. Ibrahim AS berkata: _Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu_. Mimpi seorang Nabi, adalah wahyu. Beda dan tidak seperti kita, mimpi hanya sekedar bunga atau kembang tidur. Ismail, yang masih belia menjawab dengan penuh kesalehan, kesabaran, dan keihlasan menjawab: _Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatkanku dalam kesabaran_ (QS Ash Saffat: 99-113).
Kesabaran juga kita dapatkan pada Nabi Musa AS. Yang berhadapan dengan para ahli sihir Raja Fir’aun untuk diadu kesaktian sihirnya. Allah berfirman : _Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya. Tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya_ (QS. Al Araf:104-107). Ular besar dari tongkat sakti Nabi Musa melahap ular para penyihir. Para penyihir kemudian mengakui kekuasaan Allah SWT, menjadi pengikut Nabi Musa, Fir’aun marah dan melaknat pengikutnya yang membelot. Kekesalan Fir’aun bertambah setelah kekalahan pada penyihir yang berubah menjadi pengikut Nabi Musa AS, mengirim pasukannya untuk mengeejar dan membunuh Nabi Musa dan pengikutnya. Pada akhirnya, Musa AS dan pengikutnya menyelamatkan diri berlari hingga sampai di perbatasan Laut Merah. Dalam Al Qur’an Musa AS diperintahkan: _Pergilah bersama hamba-hambaKu pada malam hari, dan pukulkanlah (buatlah jalan) dengan tongkatmu (ke laut) untuk jalan mereka di laut yang kering, dan tidak perlu (engkau) takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (tenggelam). Kemudian Fir’aun dan tenteranya mengejar mereka, tetapi merka digulung ombak laut yang menenggelamkan mereka_ (QS Asy Syuara: 60-66).
Pelajaran yang diberikan Nabi Ibrahim, Ismail, Musa, dan Nabi dan Rasul-rasul lainya yang dituturkan dalam Al Qur’an merupakan contoh pelajaran yang dapat kita ambil. Sebaik-baik contoh ada pada diri Nabi dan Rasulnya. Oleh karena itu, maka kita perlu menyifati apa yang diteladankan oleh para Rasul Allah SWT tersebut yaitu *bersabar dalam ujian* dan *berharap hanya kepadaNya akan datangnya pertolongan*. Waallahu alam bis shawab.
Banjarbaru. 20 Mei 2025
Muhammad Noor

No comments:
Post a Comment