Serba-Serbi #07 by Prof. Dr. Ir. H. MUHAMMAD NOOR, M.S.
Penerang adalah semisal lilin atau lampu, apabila dinyalakan mengeluarkan sinar atau cahaya sehingga keadaan yang semula gelap gulita menjadi terang benderang. Demkian juga, hati yang merupakan bagian rohani kita, apabila diberikan penerang, maka yang semula gelap gulita, kusut masai, dan resah gelisah dapat menjadi terang, tenang, dan nyaman. Istilah Aa Gym, kita perlu mengelola atau menjaga hati agar mendapatkan Hati yang Tenang, Bersih, dan Selamat (Qolbun Salim).
Kami oleh tuan guru NGAJI di Kampung Antasan Banjarmasin, diajarkan untuk membaca dan mengamalkan surah Al -Insyirah (Melapangkan) yang disebut juga Surah “Alam Nasyroh” yaitu surah ke 94, untuk penerang hati agar hati tenang, bahagia atau terang, sehingga dalam menghadapi kehidupan ini nyaman dan aman. Tafsir Al-Jalalayn menyatakan surah Al-Insyrah merupakan bentuk tazkiyah nafsiyah (pembersihan jiwa) dan motivasi spiritual. Sedangkan menurut tafsir As-Sa’di, surah Al-Insyrah memberikan pesan bahwa keimanan, usaha yang terus-menerus, dan kebergantungan penuh kepada Allah adalah kunci ketenangan dan kesuksesan. Sementara tafsir Ibnu Katsir menyatakan surat Al-Ansyroh merupakan janji Allah yang diungkapkan sangat lembut, namun kuat bahwa setiap beban akan diringankan, setiap kesulitan akan disusul atau diiringi kemudahan, dan bahwa keberhasilan itu akan datang bersama sabar, usaha, dan tawakkal. Masya Allah. Sungguh Al Insyirah merupakan mukjizat sehingga sebagai penerang hati benar dan patut adanya.
Bagi banyak orang, hati adakalanya mengalami ragu, bingung, atau galau. Suasana hati dibolak-balik karena dasarnya acapkali mendapatkan bisikan iblis yang bersifat menjerumuskan manusia. Adakalanya hati juga mendapatkan pencerahan malaikat dengan bisikan kebaikan dan kemuliaan. Sebagaimana janji iblis kepada Allah SWT. Iblis merupakan nama spesifik pemimpin makhluk jahat atau sosok pemberontak atau penantang perintah Allah. Iblis sebetulnya termasuk malaikat Allah, selama 400 ribu tahun taat dan tunduk kepada Allah SWT. Jauh mengalahi kita taatnya. Namun, kemudian menantang terhadap perintah Allah setelah diminta untuk sujud kepada Adam AS, ditolak Iblis dengan alasan karena Adam terbuat dari tanah, sedangkan dia, iblis dari api yang mengganggap dirinya lebih mulia atau lebih baik. Iblis sombong sehingga Allah murka, maka diusirlah iblis dari surga (QS Al-Baqarah:34; Al A'raf: 12). Iblispun meminta kepada Allah untuk dipanjangkan umur sampai akhir jaman (kiamat) dan dikabulkan Allah. Janji iblis bahwa akan menggoda manusia dari berbagai sudut dan tanpa jeda (QS Al-A’raf: 17), Adapun setan adalah sifat dari makhluk jahat sehingga tidak saja iblis, dapat berupa jin dan manusia. Manusia yang memiliki sifat -sifat iblis disebut kesetanan.
Ibnul Qoyim Al-Jauziyah dalam salah satu bukunya (sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia}, membagi hati dalam tiga kategori, yaitu hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Pengertian Hati yang Sehat (qolbun salim), yaitu hati yang selamat dari menyekutukan Allah dalam bentuk apapun. Hati yang hanya mengabdi kepada Allah SWT dalam berkehendak, mencintai, bertawakkal, dalam inabah, dalam merasa takut, dalam beramal, semua ibadah dan perbuatan semata-mata karena Allah. Apabila hati ini membenci sesuatu, maka membencinya karena Allah. Hati yang Sakit diartikan sebagai hati yang hidup tetapi sakit. Hati yang sakit mengandung dua unsur, yaitu suatu waktu ia positif dan waktu yang lain ia negatif. Ketika aura positif dominan, maka hatinya penuh muhabbah, iman, Ikhlas, dan tawakkalnya kepada Allah. Tetapi ketika sakitnya kambuh, hatinya dipenuhi aura negatif, maka hatinya sarat dengan angkara murka, marah membabi buta, hawa nafsunya naik, gigih menguber hasrat, muncul rasa hasad, benci dan sombongnya, menjadi tinggi hati, meremehkan orang lain, memuji diri sendiri, bertindak tidak adil, dan sebagainya. Hati yang sakit, ibaratnya berada di persimpangan jalan, satu arah mengajak agar menuju kepada Allah dan RasulNya untuk menuju kebahagiaan abadi dan kekal, tetapi ada arah lain yang mengajak kepada kebahagiaan sesaat. Hati yang sakit lebih cenderung memilih kepada kebahagiaan sesaat. Oleh karena itu, hati semacam ini perlu diobati. Adapun, Hati yang Mati adalah hati yang tidak mengenal Allah Tuhannya, tidak beribadah berdasarkan perintahNya, berbuat dan berperilaku tidak berdasarkan sesuatu yang disukai serta dirhidoi Allah SWT sehingga hati ini tidak peduli lagi yang penting keinginan hawa nafsunya terpenuhi sekalipun Allah murka. Bagi orang yang memiliki hati ini akan terlena dengan dunia, pikirannya hanya tercurah pada bagaimana memuaskan nafsunya. Hati ini tertutup sehingga bayang-bayang kenikmatan diprovokasikan oleh iblis sebagai sebuah kebenaran dan bayang-bayang ajab yang pedih dibisikan hanya sebagai omong kosong, Sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi (QS Al -Hijr: 39). Maka Allah butakan hati ini, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara yang haq dan bathil. Adzubillahi min zalik. Kita berlindung dari hati semacam ini.
Firman Allah SWT: "Wahai jiwa (hati) yang tenang, hati yang tulus. Kembalilah kepada Tuhammu dalam suka dan disukai (rhido), Maka berkumpulah dengan hamba-hambuKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu (QS. Al Fajd 27-30). Ayat ini menunjukkan Allah SWT memberikan penghargaan yang tinggi (surga) kepada orang yang hatinya tulus, bersih dan sehat. Ibnu Qoyim berfatwa. Fatwa ini masyhur dikalangan ulama salaf. “Tidaklah Allah menyuruh dengan suatu perintah melainkan setan mengarahkan dua tikaman terhadapnya: Apakah agar perintah itu dilalaikan atau agar dilebih-lebihkan. Setan tidak ambil pusing yang manakah ia sukses menjerat manusia”. Demikian iblis atau setan merupakan musuh yang nyata, walaupun kita tidak dapat melihatnya. Audzubillahi minasyaiton nirrojim. Kita berlindung kepada Allah terhdap segala godaan setan yang terkutuk. Audzubillahi kalimatillahi tammati min syari maa khalaq. Kita berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala kejahatan yang tekah Dia ciptakan.
No comments:
Post a Comment