Masyarakat Indonesia dikenal sangat konsumtif. Pedagang di Makkah dan Madinah tahu itu. Sehingga, mereka merasa perlu menjalin hubungan emosional melalui bahasa sebagai lingua franca (bahasa perdagangan). Tak heran bila pelayan toko atau pedagang K5 yang buka lapak di tanah haram banyak yang pintar bahasa Indonesia, bahkan ada yang iso omong Jowo, tiasa basa Sunda, dan paham pandiran urang banua. Maka, duit Jokowi (mungkin kini disebut duit Prabowo) alias mata uang rupiah menjadi alat tukar kedua setelah real Arab Saudi.
Pola hidup konsumtif ini ditangkap juga oleh para programmer sebagai peluang. Anda yang memiliki aplikasi Toko Online pasti sering menerima penawaran produk tertentu hampir tiap hari. Jika tertarik, klik masuk keranjang, beli, bayar, barang diantar. Sistem jual-beli yang praktis ini sangat disukai masyarakat. Penawaran itu biasanya disertai
fasilitas kemudahan: gratis ongkir, bisa COD, barang rusak bisa ditukar, ditambah jaminan paket sampai tepat waktu. Toko online dampaknya luar biasa. Toko-toko konvensional banyak bangkrut. Mangga 2 International Trading Centre dan Pasar Tanah Abang, pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara, tidak seramai sebelum ada toko online.Membaca peluang dan jemput bola. Itu pesan yang disampaikan dalam ilustrasi di atas. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna kita bisa melakukan pendekatan kepada jamaah untuk konsumtif belanja akhirat. Hanya untuk yang pertama. Setelah itu tunggu saja. Jamaah masjid kita sangat dermawan. Untuk urusan agama tak ada kamus pelit dalam dirinya. Lihat saja kenyataannya.
Dulu, buka puasa (bukber) di masjid kita terbatas. Setelah kita jemput bola dengan menawarkan kepada shohibul bukber melalui pendekatan, surat, atau pesan singkat, ternyata yang mendaftar berkali lipat. Belum masuk nisfu Sya’ban, daftar shohibul bukber sampai Ramadhan hari terakhir sudah padat.
Begitu pula dengan Shohibul Qurban. Tadinya kita pesimis dapat 6 sapi, sekarang sudah mencapai 7 sapi. Bila kita masih sanggup mengelolanya, buka terus. Waktu kita masih cukup sebelum 10 Zulhijjah. “Jangan tutup kesempatan umat yang mau melaksanakan perintah Allah, shalat dan berkurbanlah,” pungkas Ketua BPM mengutip Q.S. Al-Kautsar.
Panitia Tajkirah dan Panitia Qurban di masjid adalah pedagang sekaligus programmer. Bedanya, kerja panitia di masjid tidak mengharapkan keuntungan bisnis, material, apalagi finansial. Kuncinya ikhlas hanya mengharap ridha Allah, dan amanah. Berikan layanan terbaik, manfaatkan teknologi komunikasi untuk memberikan fasilitas kemudahan. Transaksi akhirat tidak mesti face to face. Untuk kepentingan praktis, masjid Darul Amanah sudah memiliki rekening, sekarang kita juga punya QRIS.
Mari kita tunggu sapi ke-8. (El Salami)
No comments:
Post a Comment