Pengelola Masjid

Tuesday, May 13, 2025

MERUGI

 Serba-Serbi#12

Merugi dalam perniagaan atau perdagangan merupakan ancaman sekaligus resiko. Kata pepatah Jangan berumah di tepi pantai kalau takut terkena ombak artinya merugi dalam berdagang hal biasa dan lumrah. Namun usaha untuk tidak merugi perlu dilakukan secara sungguh-sungguh seperti menjaga pelanggan untuk  setia, menyediakan barang yang berkualitas, efisiensi modal, dan mengurangi kebocoran. Dalam kehidupan juga merugi adalah ancaman atau resiko baik di dunia maupun kelak di akhirat sehingga perlu mendapatkan perhatian serius.  Nabi Muhammad SAW bersabda: Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah terrgolong orang yang beruntung; barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, dialah tergolong orang yang merugi; dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, dialah tergolong orang yang celaka(HR. Al Hakim). Dalam perspektif mencapai kemuliaan dan keberuntungan hidup di dunia dan akhirat, dari Abu Hurairah RA disampaikan bahwa Nabi SAW bersabda: Celakalah seseorang yang ketika aku (Muhammad) disebut-sebut di depannya, namun ia tidak mengucapkan “sholawat” kepadaku; ketika bulan Ramadhan menemuinya, lalu bulan itu pergi sebelum dia tidak mendapatkan ampunan; dan ketika dia berkempatan berada disisi ke dua orang tuanya yang berusia lanjut, namun mereka tidak berbakti sehingga tidak dapat memasukannya ke dalam surga (HR. At-Tirmidzi).

Dalam konteks yang lebih luas, merugi relate (berhubungan) dengan waktu atau masa. Allah SWT bersumpah dengan waktu dalam surah Al-Ashr, kita menyebutnya surat “Wal Ashri”, surah pendek, hanya tiga ayat, sering dibaca dalam sholat berjamaah di Masjid Kita, anak-anak  TK banyak yang hafal. Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali  orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran (QS Al-Ashr:1-3). Waktu atau masa adalah seluruh rangkaian yang berproses dalam kehidupan. Waktu menjadi penting sebagai tolak ukur, benchmark, batas berlangsungnya sebuah kegiatan atau proses perkembangan.  Dalam dunia bisnis dikenal istilah waktu adalah uang, time is money. Kehilangan waktu berarti kerugian dalam perniagaan karena kesempatan tidak terulang dua kali. Bagi para pejuang, waktu adalah pedang, al-waqtu saifun (bhs Arab), time is sword (bhs Inggris).  Apabila tidak digunakan untuk menebas musuh, maka salah-salah si pejuang yang ditebas oleh pedang musuhnya sebagaimana disebut Ibnul Qoyyim dalam bukunya Al Jawabul Kaafi (Jawaban Yang Memadai dalam Bahasa Banjar),  yang mengutip pendapat Imam Syafii:  “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak gunakan, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia. Kalimat ke dua sangat menarik, kesibukan dalam kebaikan atau kesibukan tidak bermanfaat, tidak bernilai,  atau ampas, kata Ibnu Arabi    

Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa sumpah Allah dengan waktu dalam surah Al- Ashr tersebut di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi kehidupan manusia dan bagi KIta. Waktu adalah asset paling berharga dari Allah SWT sehingga harus dipahami dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Nabi SAW bersabda “Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari). 

Ibnu Arabi, seorang ilmuawan, mufasir, penulis, dan sufi yang lahir di Spanyol mengembara menuntut ilmu ke Timur Tengah, hidup antara tahun 1165-1240 M  dalam tafsirnya mengatakan Allah bersumpah dengan masa (waktu). Masa adalah bentangan waktu yang abadi, termasuk peristiwa-peristiwa di dalamnya dan penyebab terjadinya peritiwa tersebut (dahr). Manusia sering menyalahkan masa (waktu), mereka menisbatkan perubahan kondisi dan situasi karena waktu dengan persangkaan karena waktu (dahr) yang menurut akal-akal mereka pangkal penyebab dengan ungkapan : Tidak ada yang membinasakan kami, kecuali waktu (dahr). Padahal hakekatnya menurut Ibnu Arabi waktu adalah Allah, seperti Rasulullah SAW bersabda: Janganlah engkau mencela masa, karena Allah SWT sebetulnya masa.  Mereka yang merugi menurut Ibnu Arabi karena sesungguhnya mereka terhijab (tertutup) oleh masa dariNya, Manusia merugi karena  “modal hartanya: yang tidak lain adalah cahaya fitrahnya, memilih kehidupan dunia yang fana, mencari berbagai kelezatan dunia yang fana, terhijab oleh kehidupan dunia dan masa sehingga menyia-nyiakan hal-hal abadi untuk yang baqa. Menurut ibnu Arabi, manusia yang mengutamakan yang fana adalah manusia yang merugi atau manusia “ampas” yang hanyut dalam hijab fisik, kecuali  orang-orang yang memiliki ilmu dan amal. Dalam "waktu" banyak kesempatan dan peluang untuk melakukan amal makruf nahi mungkar.  Kesempatan tidak datang untuk dua kali. Oleh karena itu Nabi SWT bersabda : Manfaatkanlah lima  kesempatan sebelum datang lima kesempita, yaitu manfaatkanlah : 

(1) masa mudamu sebelum datang  masa tua; 

(2) masa kayamu sebelum datang masa miskin; 

(3) masa sehatmu, sebelum datang masa sakit;  

(4) masa senggang sebelum masa sempitmu; 

(5) masa hidupmu, sebelum datang mati. 

Allah berfirman:  Sesungguhnya manusia Kami tempa dalam kancah perjuangan hidup (QS. Al Balad:4). Masya Allah, keuntungan dan kebahagiaan memang harus diperjuangkan dengan kerja keras, kerja ikhlas, kerja . Rasulallah SAW bersabda:Siapa yang bekerja untuk keluarga termasuk syuhada(HR. At-Thabrani).  Baraqallahu fii kum jami’an. Baraqallahu fii ajma’an. 

Banjarbaru, 13 Mei 2025

Muhammad Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...