Pengelola Masjid

Thursday, May 22, 2025

NAIK HAJI

 Serba-serbi #19

Haji adalah tradisi dari Nabi-Nabi sebelumnya yang diejawantahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Haji diakui sebagai perhelatan terbesar dunia, satu-satunya peristiwa yang berhasil mengumpulkan secara massal manusia_hampir 2 juta orang_ waktu yang sama dengan beragam bangsa dan negara. Tahun 2024 ini, jumlah jemaah haji sedunia mencapai 1.833.000 orang. Indonesia menjadi negara dengan jumlah jamaah terbesar di dunia mencapai 241.000 orang. Bukan main. Pada tahun 2013, sepuluh tahun yang lalu, jumlah jemaah haji di dunia hanya berkisar 1.300.000-1.400.000 orang dan dari Indonesia hanya 168.000 orang. 

Jumlah jemaah yang naik haji setiap tahun meningkat sehingga waktu tunggu antrean ke berangkatan semakin lama.  Rata-rata waktu tunggu antrean sekarang antara 10-50 tahun, tergantung domisili calon. Daerah Kalimantan Selatan, daerah yang mempunyai waktu tunggu paling lama sekitar 38 tahun, menyusul

Jawa Timur 34 tahun, DKI Jakarta 28 tahun, Sulawesi Utara 16 tahun, dan Maluku 11 tahun. Dari Jamaah Masjid Kita (Darul Amanah) tahun 2025 ini berangkat sebanyak 7 orang, diantaranya Bpk Kurnia Putra Tambunan dan isteri yang masuk dalam rombongan daerah Sampit (Kalimantan Tengah), mendaftar sejak tahun 2012 lalu, berarti mengikuti waktu antrean sekitar 13 tahun. Kalau ingin cepat dapat melalui Jalur Haji Plus atau Haji Furoda tanpa antrean dengan biaya lebih mahal. Kabarnya biaya untuk Haji Furoda berkisar antara 450-500 juta/orang.  

Biaya naik haji regular untuk tahun 2025 mencapai sekitar Rp.55,34 juta/orang yang dibayar langsung untuk biaya penerbangan, akomodasi (hotel dan ijin) di Mekkah dan Madinah, biaya hidup, visa dan premi dan Rp 33,98 juta dikelola pemerintah dari setoran jemaah. Jadi total biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) Rp. 89,41 juta/jiwa. Apabila dibandingkan dengan tahun 2013 biaya BPIH hanya sekitar Rp. 37,00 juta/jiwa (Kurs Dolar 1 US$ = Rp.  9.600) meningkat   hampir 2,5 kali lipat. Dorongan untuk naik haji sangat besar sehingga berapapun biaya yang harus dibayar tidak menyurutkan kaum muslimin, apalagi urang Banjar yang dikenal agamis untuk naik haji, selama masih bisa terjangkau.

Kisah popular dan masyhur  di kalangan ulama, tentang seseorang yang batal naik haji, tetapi hajinya diterima Allah SWT.  Disebutlah seorang yang bernama Ali bin Al-Muwaffaq, tukang sol sepatu di Damaskus (Suriah) yang telah menyisihkan sebagian penghasilannya bertahun-tahun untuk ongkos naik haji. Kisah ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Al Mubaraq, setelah selesai haji ia tertidur dan bermimpi melihat 2 malaikat turun dari langit. Salah satu bertanya kepada temannya: Berapa banyakkah orang yang naik haji tahun ini ?. Dijawab oleh malaikat kedua: Mereka berjumlah 600 ribu orang. Kemudian malaikat pertama bertanya lagi: Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?. Malaikat kedua menjawab: Tidak ada satupun yang diterima.  Percakapan malaikat tersebut membuat Abdullah bin Al-Mubaraq merasa gemetar. Sambil menangis ia berkata: Apakah semua orang ini datang dari tempat yang jauh dengan perjuangan dan kelelahan semua menjadi sia-sia?.  Kedua malaikat tersebut terus bercakap-cakap. Malaikat kedua kemudian berkata: Ada satu orang yang meskipun tidak malaksanakan (batal berangkat) haji, tetapi amal perbuatannya diterima oleh Allah dan semua dosanya diampuni. Karena dia, maka seluruh jemaah hajinya juga diterima Allah.  Masya Allah. Lantas malaikat pertama bertanya: Bagaimana hal itu bisa terjadi? Malaikat kedua menjawab: Itu adalah kehendak Allah SWT. Malaikat pertama kembali bertanya: Siapakah orang tersebut? Malaikat kedua berujar: Dia adalah Ali bin Muwaffaq, seorang tukang sol Sepatu di Damaskus. Setelah mendengar percakapan tersebut Abdullah bin Al Mubarak terbangun. Setelah kembali dari ibadah hajinya, maka Abdullahpun tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi mendatangi rumah Ali bi Muwaffaq di Damaskus. 

Ringkas cerita setelah bertanya sana sini ketemulah dia dengan orang yang dicari,  seorang yang sangat sederhana. Kemudian ditanyalah kenapa dia batal berangkat haji. Berceritalah Ali bin Muwaffaq bahwa pada suatu saat istrinya yang sedang hamil (mengidam) meminta dia untuk mendapatkan makanan. Istrinya berkata: Wahai suamiku, terciumkah engkau aroma masakan yang kurasakan sekarang? Ali bin Muwaffaq menjawab: Iya, sayangku ?. _Cobalah kau cari siapa yang memasak, aromanya sangat harum. Tolong mintakan sedikit untukku !, kata istrinya.   Sang suamipun pergi mencari rumah tetangga yang sedang masakannya mewangi semerbak tersebut.  Ternyata masakan tersebut dari sebuah gubuk, yang hampir roboh, dan ditempati seorang janda dan 6 orang anak. Dengan mengucap salam dan sedikit ragu Ali bin Muqaffaqpun menyampaikan  permintaan istrinya yang sedang hamil ingin merasakan barang sedikit dari masakan Sang Janda tersebut. Janda tersebut dengan halus menolak dan sambil tersenyum lalu berkata: Tidak boleh Tuan. Alipun mendesak:Berapapun harganya ?, saya akan membelinya.  Sang Jandapun meneteskan air mata sambil berkata: Makanan ini tidak dijual Tuan!  Mengapa?, tanya Ali bin Muwaffaq mendesak. Makanan ini halal bagi kami, tetapi haram bagi Tuan, kata Sang Janda.  Dalam hati Ali bin Mawaffaqpun bertanya: Bagaimana mungkin ada makanan halal baginya, tapi haram bagiku, padahal sesama-sama muslim? Ali  lantas bertanya: Kenapa?. Sang Jandapun bercerita kalau selama beberapa hari ini, dia dan anaknya tidak memiliki makanan sedikitpun. Hari ini tadi, kata si Janda, dia dan anaknya melihat seekor keledai yang mati,  lantas kamipun  “terpaksa” memasaknya untuk santapan makan kami.   Ali bin Mawaffaqpun terharu mendengar cerita Sang Janda tersebut sehingga uang ongkos untuk berangkat haji yang harus dibayarkan telah disedekahnya kepada Sang Janda tersebut. Allahu Akbar. Walillahilham.  Allah Maha Besar, Segala Puji bagi Allah

Banjarbaru, 22 Mei 2025

Muhammad Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...