Serba-serbi #18
Perkembangan ilmu (sains) membuka pengetahuan kita tidak hanya terbatas bumi tempat kita berpijak sekarang yang hanya sebagian kecil. Alam semesta ternyata meliputi wilayah tata surya dan bintang gemintang yang terbentang maha luas sebagai planet maha besar (magnitude). Bumi hanya sebuah planet kecil dari ribuan planet yang ada di angkasa. Begitu besar kekuasaan Allah SWT, dan begitu kecilnya kita, manusia hanya satu diantara ciptaanNya yang Maha Besar dan Maha Luas. Dalam Al-Qur’an ditegaskan: Dan Dia (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatunya (QS. Al-Baqarah: 29). Dalam ayat yang lain Allah menyatakan: Dan Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ArsyNya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Menjadi tugas dan amanah bagi manusia sebagai khalifahNya untuk memakmurkan bumi dan menyejahterakan penduduknya.Pada masa kegelapan, penciptaan bumi, langit, matahari, dan bulan menjadi spekulasi para ilmuwan dan pemuka agama yang banyak diwarnai dengan takhyul dan mitos (mitologi). Dalam mitologi diceritakan adanya dua serigala yang suka mengejar matahari dan bulan. Ketika salah satu benda angkasa tersebut tertangkap maka terjadilah gerhana. Maka orang-orang di muka bumi harus membuat kebisingan sehingga terhindar dari petaka (gerhana) tersebut. Walhasil, ternyata semakin bising yang terjadi di muka bumi, gerhana tetap terjadi secara berkala. Dulu muncul asumsi atau anggapan bahwa bencana adalah bentuk kemarahan para dewa atau dewi. Maka muncullah Dewa Laut dan Sungai, Dewa Hujan, Petir, dan Badai, Dewa Mata-hari, Dewa Bulan yang apabila “marah” memunculkan topan, banjir, kekeringan, dan kegelapan. Di Jawa, dikenal Dewi Sri atau Dewa padi, apabila gagal panen dikatakan dewi padi lagi marah, Sebaliknya, apabila panennya baik, maka diadakanlah kenduri atau selamatan panen untuk menghormati Dewi Sri atau Dewa Padi.
Kedatangan Islam, memberikan pencerahan terhadap pengetahuan dan ilmu (sains) dengan berbagai kemajuan dengan lahirnya ilmuawan Islam dari berbagai bidang sains modern yang di mulai pad abad ke 7 seperti Al Khawarizmi, Al Jabar (ahli matematika, geneometri), Abbas ibn Firnas (ahli pesawat); Al Battani (ahli biologi), Al-Ar-Razi, Ibnu Sina (ahli kedokteran), Ibnu Al Haitham (ilmu Astronomi/Falaq), Al-Kindi (ahli kimia obat), Al Zahrawi (ahli memintal.menjahit), Jabir Ibnu Hayyan, Ahmad Ibn Tulun (ahli rumah sakit), Ibnu Khaldun (ahli bahasa dan psikologi), Al-Ghazali, Ibnul Qoyyim (ahli filsafat dan jiwa). Lahir kota-kota peradaban baru, yang semula berpusat di Yunani, Spanyol bergeser ke Damaskus, Bagdad (Irak), Iskandariah (Mesir), Turki, dan kota-kota lainnya di Jazirah Arab menjadi pusat sains dunia. Bahasa Arab di masa itu menjadi bahasa dunia internasional karena kekuasaan Islam yang luas meliputi Roma (Romawi), Byzantium (Persia), dan Asia Afrika.
Perkembangan sains abab 20 mengalami puncaknya melalui penafsiran, pendalaman, dan penggalian terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Perkembangan bidang kedokteran. kesehatan, astronomi, farmakologi (obat-obatan), pengetahuan alam (fisika, biologi, matematika), dan lainnya pada awalnya dicetuskan oleh para pemikir Islam abad ke 7-8. Para ulama terdahulu tidak hanya pandai dalam bidang agama seperti fiqih, tauhid (atau (naqliyah), tetapi juga bidang sains (aqliyah) sehingga dikenal sebagai ahli pengobatan, ahli pelayaran, ahli perkayuan, pertukangan, ahli botani dan pertanian, ahli bisnis atau perdagangan, dan sebagainya. Istilah membumikan Al Qur’an, sudah lama dilakukan oleh para ulama terdahulu, yang sekarang menjadi semangat baru. Di lingkungan kampus berkembang dua istilah (1) ulama yang saintis, ulama yang juga mendalami bidang sains (ilmu aqliyah). Misalnya ulama yang sekaligus menjadi dokter ahli bedah, dokter anak, ahli matematika, ahli gizi dan sebagainya; dan (2) saintis yang ulama, yaitu para ilmuawan (saintis) yang mumpuni di bidangnya tetapi juga mendalami seluk beluk agama. Misalnya: ahli kesehatan juga mempelajari fiqih islam tentang prempuan; ahli biologi mendalami tentang penciptaan manusia menurut Islam dan lainnya. Akhir-akhir ini seorang saintis Israel Yahudi, bernama Yuval Noah Harari, kelahiran 1976, seorang sejarawan, seorang guru besar di Universitas Ibrani Yerusalem menulis dua buku yang best seller dan banyak dibaca, diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia dengan judul (1) Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia (2014) dan (2) Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2015). Buku Harari di atas mengemukakan sejarah manusia semenjak terjadinya "revolusi kognitif" 50 ribu tahun yang lalu, yaitu ketika Homo sapiens (manusia) menyingkirkan Neanderthal (bangsa purba), yang menguasai linguistik (informasi, bahasa), kognitif (proses pemikiran, pembelajaran, dan pengalaman), perkembangan masyarakat yang terstruktur dan menjadi predator (pemakan) puncak atau terbesar terhadap sumber daya alam. Kemajuan ilmu pengetahuan (sains) sekarang menampakan fenomena bahwa manusia seperti dapat melakukan apa saja yang dulu mustahil, kecuali Tuhan. Manusia seperti mengambil peran Tuhan dengan kemajuan ilmunya seperti bisa mengatasi atau mencegah ketuaan, mengganti organ-organ tubuh, bahkan memperpanjang umur kehidupan. Masya Allah. Wallahu ‘alam bis shawab.
Banjarbaru, 21 Mei 2025
Muhammad Noor
%20membuka%20pengetahuan%20kita%20tidak%20hanya%20terbatas%20bumi%20t....jpeg)
No comments:
Post a Comment