Pengelola Masjid

Friday, May 30, 2025

JALAN KE TANAH SUCI

 Serba-serbi #25

Keberangkatan jamaah ke tanah suci untuk berhaji tahun 2025 ini sudah hampir tuntas memasuki tanggal 3 Dzulkaidah. Jumlah jemaah haji yang masuk tanah suci tahun 2025 ini sekitar 3 juta orang. Kuota haji Indonesia haji tahun 2025 ini sekitar 221.000 orang  terbanyak, disusul Pakistan, India,  Bangladesh, dan Nigeria. 

Tanah Suci disebut demikian karena di wilayah tersebut tredapat bangunan Ka’bah dan Masjidil Haram (Mekkah) serta  Masjid Nabi (Madinah). Menurut Perjanjian Lama (Taurat) Tanah Suci disebut juga Tanah Perjanjian adalah tanah yang dijanjikan Allah kepada bangsa Israel sewaktu mereka berada di Mesir. Allah berjanji melalui Abraham (Nabi Ibrahim) dan keturunannya untuk memberikan tanah tersebut yang disebut tanah Kanaan yang meliputi wilayah Israel, Palestina dan sebagian Yordania, dan Lebanon. Yordania, dan Lebanon. Wilayah  Tanah Perjanjian ini tidak mempunyai batas yang jelas dan pasti, selalu bergeser, diklaim bangsa Israel, ditempati bangsa Arab, termasuk bangsa Palestina. Setiap muslim mengimpikan atau bercita-cita suatu saat sampai di Tanah Suci untuk menunaikan salah satu kewajinan dari rukun Islam, yaitu Ber-Haji dan sekaligus Ber-Umrah. 

Jalan ke Tanah Suci dari Nusantara (Indonesia) dulu ditempuh mengarungi laut dengan kapal layar selama 4 bulan.  Kemudian lebih maju dengan kapal bermesin (kapal barang) selama 2 bulan, apabila dengan kapal penumpang lebih cepat. Pada zaman Belanda, tercatat perjalanan haji tahun 1912 dengan kapal dari Batavia (Jakarta) ke Jeddah memerlukan waktu 49 hari. Jumlah jamaah waktu itu mencapai 18.632 orang. Apabila keberangkatan dari Surabaya lebih lama berbulan-bulan. Perjalanan dengan kapal uap lebih cepat hanya memerlukan waktu 19-25 hari. Perjalanan haji waktu itu betul-betul mempetaruhkan nyawa karena lama dijalan, sebagian terserang penyakit, kadang-kadang dirampok di perjalanan, aada juga yang dirampok di tanah suci. Dilaporkan dalam perjalanan haji tahun 1912 di atas sebanyak 2.634 yang meninggal dunia. Sejak tahun 1979, pemerintah Indonesia menghapuskan perjalanan haji dengan kapal. Sekarang  perjalanan haji tinggal pilih, hanya saja harus antrean, kecuali bagi yang punya uang banyak bisa memilih Haji Furoda, tanpa antrean dengan ONH 450-500 juta/orang.  

Menurut Prof. Dr. Fuad Hasan (1975) dalam bukunya “Pengalaman Seorang Haji (Perlawatan ke Haramain)”,  Menteri Pendidikan & Kebudayaan (1988-1993) mengungkapkan perjalanan haji dari sebelum keberangkatan sampai kedatangan sungguh sangat berbeda dengan perjalanan ke luar negeri. Bagi Fuad Hasan perjalanan jauh ke luar negeri sudah sering kali, tetapi dirasakan biasa saja, tetapi bagi beliau perjalanan haji memiliki nuansa dan pengalaman spiritual yang sukar diungkapkan.   

Perjalanan ke tanah suci merupakan sebuah misteri yang tidak mudah dipahami dan ditafsirkan.  Oleh karena itu, setiap orang mempunyai kisah sendiri dan berbeda dengan orang lain.  Berbagai upaya dan cara ditempuh untuk sampai ke tanah suci.  Haji Bahari (2012), seorang wartawan Jawa Pos disebut  “Haji Nekat”   karena perjalanan hajinya ditempuh melewati jalur darat. Ada juga seorang anak muda, mahasiswa Indonesia di Mesir (Kairo), bernama Aguk Irawan (2009), melakukan perjalanan haji dengan gaya pencinta alam, seperti naik gunung hanya berbekal seadanya dan secukupnya sehingga disebut “Haji  Backpacker”, artinya perjalanan hanya berbekal dengan tas ransel.   Winny Gunarti (2009) menuliskan berbagai kisah misteri perjalanan Haji dengan judul bukunya "40 Keajaiban Naik Haji: Kisah Nyata Para Tamu Allah di Tanah Suci".  Syamsudin Haris (2013), seorang ilmuawan LIPI, pengamat politik menceritakan pengalaman hajinya sebagai peneliti dengan judul "Menikmati Naik Haji: Catatan Perjalanan Seorang Peneliti".  Penulis Augustus Ralli (2011) menceritakan tentang perjalanan haji orang-orang Eropah, khususnya Belanda yang “terpaksa” masuk Islam dalam bukunya berjudul  Al Masihiyun fii Makkah (Christian of Macca) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia  menjadi "Orang Kristen Naik Haji".

Tidak sedikit orang yang pesimis untuk dapat dapat menunaikan haji karena biayanya yang tidak sedikit, antreannya yang panjang, dan lain sebagainya. Sekali lagi perjalanan ke Tanah Suci  adalah perjalanan HambaNya untuk bertamu ke RumahNya, maka setiap orang punya peluang yang sama tidak pandang kaya atau miskin, berpangkat atau rakyat biasa, terpandang atau orang awam. Pada perjalanan haji tahun 2013 lalu, saya bertemu dengan seorang bernama Abdul Kadir, seorang tukang yang biasa bekerja untuk memperbaiki atau membangun rumah seseorang di Yogyakarta. Masya Allah, beliau diberangkatkan ke Tanah Suci oleh seorang tempat beliau bekerja sebagai tukang. Tanpa mengeluarkan uang sepeserpun dari pendaftaran sampai ke tanah suci.  Bapak Syamsuddin, seorang sopir sebuah perusahaan swasta di Banjarmasin, bekerja rajin, disiplin, dan sholat juga rajin, tiba-tiba saja dipanggil bosnya untuk diberangkatkan haji. Dari cerita di atas, maka pasanglah niat yang kuat dan berdoalah memohon kepadaNya untuk dapat berhaji sebelum dipanggilNya, kata ustadz kemarin di pengajian. Allah berfirman: Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj: 27).  Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kalian bersegera mengerjakan haji karena sesungguhnya seseorang tidak tahu halangan yang akan merintanginya (HR. Ahmad). Barakallahu fiikum jami’an. Barakallahu fiikum ajma’in.

Banjarbaru, 30 Mei 2025

Muhammad Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...