Serba-Serbi #20
Tawakal diambil dari kata “wakal” (Bahasa Arab) artinya mengandalkan, berserah diri atau mempercayakan. Kalimat ungkapan, sering diucapkan _“Tawakal alallah fahuwa hasbuh”_ yang artinya ”Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan baginya”.Tawakal adalah ibadah hati, termasuk bagian dari akhlaq yang paling agung.
Fenomena bunuh diri pada masyarkat Jepang dan Korea sering kita dengar. Tanpa sadar, kita kadang merasa apa yang kita peroleh merupakan hasil jerih payah usaha kita sendiri. Sikap ini banyak didapati pada masyarakat modern sehingga apabila mengalami kegagalan, muncul kegalauan, stress, bingung, dan puncaknya bunuh diri. Disisi lain, ada pendapat bahwa Allah SWT sudah menentukan dan menetapkan keberhasilan usaha (nasib) sehingga tidak perlu kerja keras atau usaha maksimal. Sikap kedua ini dapat membawa kepada minimnya inovasi, rendahnya kreatifitas, dan memupuk sifat pemalas. Kita diajarkan, apabila pergi keluar rumah untuk bekerja membaca “_Bismillah hi tawaqaltu allalah, lahawla wala quwata illah billahi_” sebuah pernyataan penyerahan diri, permohonan keselamatan, dan pengakuan tidak ada kekuatan, kecuali Allah semata. Keluar rumah adalah usaha dan hasil yang kita dapat bersandar (tergantung) kepada Allah.
Menurut Imam Al -Ghazali, tawakal adalah derajat tertinggi dalam agama bagi seorang muslim, sedang menurut Ibnul Qoyyim tawakal adalah setengah dari agama dan setengahnya lagi adalah kembali kepada Allah SWT. Imam Ahmad, mengatakan tawakal adalah aktivitas hati, bukan dengan ucapan lisan, bukan juga dengan perbuatan anggota tubuh, bukan merupakan suatu ilmu atau pengetahuan. Menurut Basyar al-Hafi, seorang ulama, kalau ada seorang yang berkata “Aku bertawakal kepada Allah” Sesungguhnya dia berdusta kepada Allah. Karena apabila di bertawakal, maka ia akan bersikap ridho terhadap apa yang diperbuat Allah. Yahya bin Muadz, seorang tabiin, ditanya:_Kapan seorang dapat dikatakan tawakal?_, Ia menjawab: _Jika ia telah rhido Allah menjadi pelindung bagi dirinya_. Dzu An-Nun, seorang ulama sufi mengatakan tawakal adalah melepaskan diri dari segala kekuatan selain Allah dan tidak mengkaitkan suatu kejaidan dengan kejadian lainnya.
Abu Turab memaknai tawakal dengan lima perkara: (1). Melaksanakan ibadah; (2) menggantungkan hati kepada pemeliharaan Allah; (3) merasa tentram terhadap segala ketetapan (qadha) dan ketentuan (qadar) Allah; (4) merasa tenang dan cukup dengan pemberianNya; dan (5) bersyukur dengan pemberianNya dan bersabar terhadap harapan yang belum dikabulkanNya. Menurut Abu Said tawakal mengandung unsur bekerja dan pasrah. Tawakal adalah jiwa Rasulullah, dan bekerja keras adalah sunnahnya, kata Dr. Yusuf Al-Qardawi, dalam bukunya “Tawakkal” (2004).
Tawakal dikatakan oleh orang-orang tua dulu: “habis akal baru tawakkal” artinya usaha dahulu sekuat tenaga, diujung setelah habis segala usaha keras baru tawakal. Contoh paling populer di kalangan para ulama adalah tentang kisah seorang Arab Badui, penduduk pedalaman, yang jauh dari kota suatu ketika berkunjung ketempat kediaman Nabi SAW. Ia turun dari untanya kemudian masuk ke rumah Nabi SAW. Nabi kemudian bertanya: _Wahai pulan, apakah untamu sudah ditambatkan (diikat)?_ Orang Badui tersebut menjawab: _Tidak, Wahai Nabi !, saya lepaskan bebas begitu saja dan saya bertawakal kepada Allah_. Mendengar jawaban Badui tersebut Nabipun bersabda: _Tambatkan (ikat) dulu untamu baru bertawakal_. Bertawakal artinya berserah diri kepadaNya, menyerahkan sepenuhnya keberhasilan usahamu setelah dilakukan upaya. Setelah ada usaha dan ikhtiar yang mantap, barulah bertawakal. Nabi SAW selalu mengingatkan perihal perkara dunia kepada usaha. Oleh karena Allah SWT yang akan menyempurnakan IradatNya terhadap semua urusan orang yang bertawakal sesuai dengan kodrat usahanya. Dari Umar bin Khatab, Nabi SAW bersabda: _Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan rizeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang_ (HR. Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)). Firman Allah SWT: _Wa kullu syai’in ‘indahu bimiqdarin_. Dan segala sesuatu ada ukuran disisiNya (QS. Ar-Rad:8). Firman Allah SWT: _Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman_ (QS Al-Maidah:23). _Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya_ (QS At-Thalaq:3). _Masya Allah. Lahaula walaquwata illabillahi walhamdulillahi Robbilaalamiin_.
Banjarbaru. 23 Mei 2025
Muhammad Noor

No comments:
Post a Comment