Catatan Ramadhan 1447#4
Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hati. Mengajarkan kesetiaan kepada Allah SWT, yang tidak bergantung kepada imbalan. Rabiatul Adawiyah bersyair: “Bila aku menyembahMu karena takut akan Neraka, bakarlah aku dalam NerakaMu. Bila aku menyembahMu karena mengharap SurgaMu, tutuplah surgaMu” Konon, Rabiatul membawa air dan bensin r ditengah jalan ditanya seseorang : Wahai bunda, mau kemana? Dijawab Rabiatul: Aku mau menyiram Neraka agar tidak ditakuti, dan membakar surga agar tidak dijadikan pengaharapan beribadah. _“Namun, jika aku menyembuhMu karena Engkau yang pantas. Jangan Engkau tahan kenikmatan wajibMu dariku, kata Adawiyah
Dalam syair lain Abu Nawas berkata: “Yaa TuhanKu, aku tidak pantas masuk ke SurgaMu, karena amalku tidak seberapa. Tetapi aku tidak kuat masuk NerakaMu, menahan panas siksaMu” Banyak orang berpikir bahwa untuk dapat masuk surga perlu bersusah-susah, tidak gampang karena pada dasarnya manusia tidak lepas dari salah dan dosa. Kata surga dalam Al Qur;an terdapat sekitar 147 jauh lebih besar dari kata Neraka hanya 108, diantaranya 77 disebutkan dengan jahanam. Apakah ini menunjukan bahwa meraih surga lebih gampang daripada neraka ? Wallahu’alam, Hanya Allah yang Maha Tahu.
Dalam sebuah ceramah, Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim), ulama yang hafal Al-Quran dan ribuan hadist mengungkapkan bahwa tetangga sebelah (pendeta, pastur) yang gemar mempromosikan surga sebagai hadiah bagi pemeluknya. Kenapa kita (orang Islam), terutama para ustadz atau dai-dai segan, takut, tidak pede, tidak gencar, kurang tpromosi adanya jaminan masuk ke surga bagi jamaahnya?, bahkan sebaliknya lebih banyak menyebutkan tentang pdihnya ancaman azab Neraka ? Hal ini , dikhawatirkan membuat umat pesimis dan apatis terhadap amal makruf nahi mungkar.
Allah SWT dalam firmanNya mengingatkan kepada para kaum kafir yang sadar berucap: Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhanmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimananku). Dikatakan (kepadanya) Masuklah ke surga: Dia laki-laki berkata: Alanglah baiknya sekiranya kaumku mengetahui”(QS. Yasin :25-26); Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman'' Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman dan berbuat kebajikan untuk mereka (disediakan) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”(QS. Al Baqarah: 24-25)
Bulan Ramadhan kini memasuki fase terakhir, menjadi momentum berdoa untuk terbebas dari azab neraka dan menjadi calon penghuni surganya Allah. Kisah berikut tentang orang-orang yang dinyatakan menjadi penghuni surgaNya Allah.
Kisah masyhur dari kaum Bani Israil (bukan bangsa Israil yang lagi perang dengan Iran sekarang), tentang seorang wanita penzina (pendosa). Oleh karena memberikan minum kepada seekor anjing yang kehausan ditepi sumur. Sang pendosa sampai menjadikan sepatunya untuk wadah mengambil air yang diberikannya kepada si anjing. Allah berterima kasih atas perbuatan kasih sayangnya sehingga mengampuni dosanya serta memasukannya ke surga HR. Bukhari Muslim). Kisah lainnya yang masyhur di kalangan sahabat, tentang Bilali. Suatu hari Nabi SAW bersabda: Wahai Bilal (Bilal bin Rabah, RA), ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam. Karena sesungguhya aku mendengar suara terompahmu (langkah kakimu) di hadapanku dalam surga (HR. Bukhari & Muslim). Bilai, seorang hamba sahaya (budak) yang ditebus Abu Bakar dari Abu Jahal pada awal-awal Islam. Biilal menjawab: Tidak ada amal yang istimewa aku lakukan, kecuali aku berwudlu pada waktu malam atau siang, aku sholat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku (HR Tirmizi & Ahmad).
Pada suatu hari yang lain Nabi SAW berkata kepada para sahabatnya yang sedang berkumpul, mengarahkan telunjuknya kepintu masjid dan berkata: “Akan keluar nanti seorang laki-laki penghuni surga dan lalu muncullah seorang Anshar (penduduk Madinah) dengan jenggot basah sisa wudhu dan menenteng sandal. Sahabat Nabi yang bernama Abdullah bina Amr merasa penasaran sehingga meminta kepada lelaki Anshar tersebut untuk menginap selama tiga hari dengan alasan yang dibuat-buat untuk mengetahui dan menyelidiki amalan ibadah apa yang dilakukan? Setelah tiga hari, Abdullah bin Amr tidak menemukan amalan istimewa yang dilakukan lelaki tersebut. Pada saat malam lelaki tersebut tidur, tidak shalat malam, tidak juga puasa (sunah), tidak ada amalan yang menonjol, sehingga Abdullahpun bertanya langsung: Apa sebab dan mengapa Nabi menyatakan dia sebagai penghuni surga?. Lelaki Anshor tersebut membuka rahasianya dan menjawab: “Aku tidak pernah tidur dalam keadaan menyimpan dendam atau iri hati kepada seorangpun dari kaum muslimin atas kebaikan yang Allah berikan kepada mereka” Masyaallah.
Pada hakekatnya surga adalah anugerah, seperti lirik syair di atas, lebih tepat disebut sebagai bonus, bukan didasarkan pada besarnya amal ibadah kita sehingga sepatutnya tidak ada yang kita sombongkan. Wallahualam bis shawab.
Yogyakarta, 10 Maret 2026
Muhamamd Noor
No comments:
Post a Comment