Catatan Ramadhan 1447#02
Menjalani Ramadhan 1447 H, tahun ini kita mendengar atau menyaksikan perang rudal dan drone antara Iran dengan Israel yang didukung oleh Amerika. Pada jaman Nabi SAW dan para sahabatnya beberapa peperangan pernah terjadi pada saat Ramadhan seperti Perang Badar (623 M/2 H) dan Fathul Makkah (628 M/7 H) sehingga pada suatu ketika Nabi pernah bertanya dihadapan para sahabatnya seusai Ramadhan. Peristiwa ini masyhur di kalangan para ulama dan sering dikemukakan. Nabi SAW berkata: bahwa ada sebuah peperangan yang sangat besar dan berat ? Lantas para sahabat bertanya: perangan apa itu, wahai Rasul ?. Nabi SAW: perang melawan hawa nafsu angkara murka, yaitu puasa ?. Dalam jihad atau ajakan berperang banyak dihubungkan dengan cinta. Dalam Al Qur’an banyak diungkapkan keengganan para muslimin, khususnya pada munafiqin untuk ikut berperang karena enggan meninggalkan harta, keluarga, isteri, anak-anak, kedudukan dan sebagainya sehingga turun ayat antara lain
Surah At Taubah (9) : ayat 28, 29, 81; An-Nisa (4): ayat 77; Al Baqarah (2): 216; dan Muhammad (47): 20. Menurut KH. M. Quraish Shihab ayat-ayat perang diatas hakekatnya memiliki misi atau tujuan untuk perdamaian, namun sering disalahpahami dianggap oleh orang-orang Barat notabene non muslim bertujuan untuk aggresi atau menjajah.Dalam sebuah kultum menjelang shubuh di Masjid Al Mukhlis, Gamping Kidul, Yogyakarta oleh ustadz Muhammad Said Adam diceritakan betapa kuatnya jalinan cinta antara para sahabat terhadap sesamanya, terlebih terhadap Nabi SAW. Mengapa para sahabat begitu cinta terhadap Nabi SAW, tentu tidak lepas dari kepribadian (akhlak) yang beliau tunjukkan. Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW dianjurkan untuk saling mencintai. Balasan cinta yang tulus adalah surga, demikian kata ustadz Adam di atas.
Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi SAW yang sedang berada ditengah para sahabatnya didatangi seorang lelaki Arab Badui (Badui digambar orang yang dari kampung yang jauh, berperilaku lugu, dan kurang adab sehingga sering tidak dihiiraukan). Lelaki Badui bertanya kepada Nabi SAW : Kapankah kiamat itu?. Nabi balik bertanya : Amal apa yang enkau persiapkan ? Si Baduipun menjawab: Tidak ada yang aku persiapkan. Tiidak banyak sholat (sunat) yang kulakukan, Juga tidak banyak puasa (sunat) yang ku lakukan. Tidak ada amalan khusus yang ku lakukan. Namun aku sangat mencintai Allah dan RasulNya, kata si Badui. Lantas Nabi SAW bersabda : Engkau akan bersama orang yang engkau cintai. Masyaallah. Para sahabat yang mendengar dialog dan perkataan Nabi Muhammad SAW diatas semakin kuat cinta dan sayangnya terhadap Nabi. Semoga kita termasuk orang mencintai Nabi dan sabahat-sahabatnya sebagai modal (seperi orang Badui pada cerita diatas) untuk kita dapat besama Nabi dan sahabatnya di akhirat kelak. Aamiin Ya Robbal Alaamin
Yogyakarta, 3 Maret 2025
Muhammad Noor
No comments:
Post a Comment