Catatan Ramadhan 1447#01
UMUR seperti tamu yang datang tidak diundang, dan pergi tanpa permisi. Ramadhan tahun lalu si pulan, tetangga kita masih tarawih bersama, kini sudah wafat. Bulan kemarin kita bersalaman di masjid saat ibadah Jum'at dengan teman satu SMA dulu. Kini sudah berpulang dipanggil yang Maha Kuasa. Umur tidak berbau dan berwarna kata orang tua dulu, artinya tidak bisa ditebak. Namun, banyak orang berdoa atau kita sering mendoakan teman atau sahabat si pulan agar dipanjangkan umur. Padahal dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW dikatakan bahwa umur, termasuk rezeki dan jodoh sudah tercatat sejak seseorang masih berada di alam roh sebelum dilahirkan ke alam dunia, tercacat di Lauhul Mahfudz(Lembaran yang Terjaga). Apakah doa yang kita lafalkan itu sekedar kebiasaan dalam pergaulan ? Apakah doa yang sia-sia atau tidak sepantasnya diucapkan?. Pertanyaan utamanya, apakah umur seseorang “harga mati” atau tidak dapat diapa-apakan atau tidak dapat dirubah atau diperpanjang ? Mari kita telusuri perihal makna dan hakaket umur dalam konteks yang lebih luas.
Dalam kultum Ramadhan 1447 H, beberapa hari lalu di Masjid Al Mukhlis, Gamping Kidul, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta ustadz Romi Kurniawan mengungkapkan kisah yang disampaikan Saidina Aisyah RA, isteri Nabi SAW berkata “aku nelihat dua orang lelaki menghadap Nabi untuk memeluk Islam, kemudian keduanya ikut berperang salah satu wafat dalam perang ber jihad dengan orang musyrik sehingga syahid, sedang yang seorang wafat setahun kemudian, tetapi tidak dalam peperangan, tidak dalam syahid. Seorang sahabat Nabi SAW, Talhah RA bermimpi. Dalam mimpinya, Talhah dan dua lelaki di atas sedang berdiri di depan pintu surga dan ternyata justru yang masuk surga lebih dulu adalah yang wafat belakangan, sedang yang mati syahid musuk surgaNya Allah lebih lambat daripada lelaki yang wafat setahun kemudian. Di hadapan para sahabat Nabi yang berkumpul Talhah RA mengemukakan kebingungannya atas mimpi di atas. Namun para sahabat tidak satupun yang dapat memberikan penjelasan. Akhirnya pertanyaan dari mimpi Talhah RA tersebut sampai kepada Nabi SAW. Nabi mengatakan bukankah lelaki yang umurnya di panjangkan setahun tersebut, dia telah manfaatkan untuk beribadah sehingga sampai bertemu Ramadhan, bulan yang mulia ? dimana kesempatan doa akan dikabul telah dijanjikan Allah SWT (QS Al-Baqarah: 186). Pada bulan Ramadhan perbuatan amal kebaikan dilipatgandakan imbalannya, seperti pahala sunah/sunat disetarakan dengan amal wajid; sedangkan pahala amal wajid dilipatgandakan sampai 70 kali; Ibadah pada malam Lailatul qadar bernilai lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun 4 bulan) (QS Al Qadr: 3).
Dalam kisah masyhur lainnya, Nabi Isa AS pada suatu pagi bertemu dengan malaikat Izroil si pencabut nyawa. Nabi Isa AS diberitahu oleh Izroil bahwa si pulan yang lewat dihadapannya sebentar siang akan diwafatkan, dicabut nyawanya. Namun, hingga sampai siang yang telah ditentukan si pulan yang dinyatakan akan dicabut nyawa ternyata tetap segar bugar, masih bernafas, masih hidup. Nabi Isa AS bingung, dan juga tidak yakin kalau seorang malaikat Allah bisa berbohong. Singkat cerita, Nabi Isa AS akhirnya dipertemukan dengan malaikat Izroil dan berkesempatan bertanya tentang si pulan yang ternyata masih diberi umur. Malaikat izroilpun menjelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan dispensasi perpanjangan umurnya karena telah banyak bersedekah pada saat-saat menjelang umurnya telah sampai. Masya Allah. Sedekah memperpanjang umur.Wallahu alam bis shawab
Yogyakarta, 27 Februari 2026
Muhammad Noor
No comments:
Post a Comment