Pengelola Masjid

Tuesday, December 23, 2025

SUKA BACAKUT

 Inspirasi#07

Bacakut dari Bahasa Banjar secara umum bisa diartikan suka berseterum bertengkar atau saling mengatakan kejelekan, kekurangan, atau kesalahan sehingga berujung pada permusuhan atau hubungan sesama yang tidak harmonis.  Suka Bacakut menjadi ciri yang sering disebut-sebut oleh orang tua kepada anak-anak sebagai pepadah atau nasehat agar dihindari. Muchtar Lubis, seorang budayawan, satrawan, dan juga wartawan kawakan dalam sebuah bukunya yang berjudul Manusia Indonesia (1990) mengemukakan bahwa ada enam sifat manusia Indonesia yang menonjol “tidak sehat atau tidak membangun” antara lain adalah watak yang lemah. Suka bacakut dalam hal inni masuk dalam kategori watak yang lemah.  Watak yang lemah ini sering oleh para kaula muda kini disebut sebagai “toksik”.  Toksik artinya dia tidak hanya berdampak kepada target yang dituju, tetapi  berimbas pada oang-orang di sekitarnya bahkan kepada orang-orang diluar yang sama sekali  tidak ada hubungannya.

Watak yang lemah “suka bacakut” menurut para ahli psikologi tidak merujuk pada satu istilah tunggal yang baku, melainkan kumpulan karakteristik atau kerentanan psikologis yang diidentifikasikan dalam konteks kepribadian dan kesehatan mental.  Watak yang lemah ini sering dikaitkan engan kerentanan emosional, ketidakmampuan membedakan antara perbuatan sehat dengan yang sakit (toksik), mudah terpengaruh oleh faktor eksternal.   Musebab munculnya watak yang lemah ini menurut para ahli banyak dipengaruhi oleh pendidikan, lingkungan keluarga, dan lingkungan pergaulan. Ciri pertama berwatak lemah ini adalah Kerentanan Psikologis yang dapat memunculkan sifat-sifat mudah tertipu/ditipu; keinginan yang berlebihan; ketidakjujuran; atau keserakahan. Kerentanan ini dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi individu. Ciri Kedua adalah Ketidak Mampuan Mengambil Keputusan yang Adil dan Bijak karena dipengaruhi oleh emosi yang tidak terkendali; kurangnya pengetahuan; dan ketidak mumpunian dalam mengatasi stress akibat tekanan atau isu yang dihembuskan (iblis  pembisik kejahatan). 

Watak yang Lemah ini dapat diperbaiki, menurut para ahli psikologi adalah fokus pada penguatan mental dan karakter melalui pembentukan pola pikir positif, kenali diri dan kelemahan, kelola emosi, biasakan diri dengan kebaikan (akhlaqul kharimah), bangun kebiasaan sehat (olahraga, istirahat), berani menghadapi rasa takut, bersyukur serta bergaul dengan orang-orang yang berpikir positif, dan meminta bantuan profesional kalau diperlukan.  Perbaikan watak yang lemah ini membutuhkan usaha yang konsisten, tetapi sangat mungkin. Para pemimpin seyogyanya mempunyai watak yang kuat, sebagai kebalikan dari watak yang lemah sehingga dalam memutuskan sesuatu dapat berlaku adil dan bijaksana yang menjadi azas dalam pengambilan kebijakan.  

Watak yang Lemah suka bacakut ini biasanya dimiliki oleh anak-anak yang secara mental sedang dalam perkembangan secara mental dan spritual. Bagi orang dewasa suka bacakut ini sebetulnya merupakan watak yang tidak sehat karena berdampak mendalam secara psikologis (mental) bahkan sampai fisik-bilogis oleh karena itu perlu selalu dihindari. Banyak hadist Nabi yang menganjurkan bagaimana seharusnya kita dalam ber tutur-kata, berprilaku, dan bersikap sehingga tidak menciderai perasaan atau hati orang lain (QS Al-Baqaroh 83; An-Nisa 9; Ali Imron: 159). Cerita menarik pernah penulis dengar, pada suatu waktu terjadi pertengkaran (kesalah pahaman) antara anak-anak di kampung kami, yang berimbas akhirnya kepada pertengkaran orang tua denag orang tua si anak. Pada umumnya penyebab pertengkaran mereka sangat sederhana dan sepele, tersenggol sedikit saja dapat menjadi masalah sehingga bertengkar, tetapi anak-anak juga mudah saling memaafkan sehingga tidak dalam hitungan minggu bahkan hari mereka kembali bermain bersama. tertawa, dan bersenda gurau lagu.  Sementara orang tua yang terlanjur bertengkar. sampai berbulan—bulan bahkan bertahun-tahun masing-masing belum terlihat saling memaafkan dan bertegur sapa. Hal ini memberikan pelajaran bahwa hendaknya kita bisa mengendalikan diri dan emosi sehingga tidak membuat hubungan sesama menjadi tidak nyaman dan tidak harmonis.          

Kalau kita bertanya di Google IA apakah Nabi Muhammad SAW pernah bertengkar atau berseteru dengan orang lain?  Jawabnya, Nabi hanya pernah bertengkar dengan istri beliau Saidina Aisyah RA karena cemburu. Wajar dan manusiawi seorang suami cemburu kepada istrinya seperti umumnya para suami. Namun marahnya Rasulullah tidak lama, kemudian berbaikan kembali.  Bertengkarnya Rasulullah dengan isetrinya tidak melibatkan orang lain dan bahkan Abu Bakar RA, sebagai mertua dicegah Rasululllah untuk melibatkan diri. Cara Rasulullah menghilangkan marahnya yaitu dengan memeluk Saidina Asyah kemudian sehingga terjadi kemesraan kembali sebagai suami istri. Demikian yang dilakukan Rasulullah yang menjadi panutan kita semua, tidak pernah bertengkar walaupun pada banyak hal  dan lebih berat yang dihadapi dibandingkan kita.

Semoga kita barataan dapat mengoreksi diri atau introspeksi  masing-masing pihak baik antara pengelola, yayasan, jamaah dan pihak lainnya dengan  memperbaiki hubungan sesama dalam upaya memakmurkan masjid sebagai Rumah Allah, sesuai dengan visi Masjid Kita menjadi tempat ibadah yang nyaman, menarik, dan indah bagi jamaah dan ummat.  jauh dari kepentingan pribadi, kelompok, atau lainnya. Dan misi kita menjadikan Masjid sebagai tempat yang disukai, disenagii, dan dibanggakan oleh jamaah dan ummat. Mari kita lepaskan kepentingan-kepentingan atau egoisme lain__ “lupakan mantan masa lalu, fokus untuk ke masa depan”__ kita utamakan kepentingan Allah dan RasulNya Mari kita sama-sama mengembalikan suasana Masjid Kita kepada suasana yang nyaman,  aman, dan damai demi Rasulullah yang kita muliakan di bulan yang mulia dan baik ini, bulan  Rajab.  Aamiin Yaa Robbal Aalamiin. 


Muhammad Noor

Yogyakarta, 23  Desember 2025

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...