Pengelola Masjid

Friday, August 8, 2025

Jalan Pintas

_Inspirasi#03_

Jalan pintas terkesan sebagai sebuah terobosan, samar-samar dianggap sebagai inovasi atau kreasi, tetapi pada hakekatnya adalah pengangkangan terhadap kebenaran atau  bertolak belakang dengan kebaikan. Akhir-akhir ini, jalan pintas menjadi trend sebagai menghalalkan cara-cara batil untuk mendapatkan kekuasaan seperti jabatan, pangkat, kekayaan, atau kekuasaan lainnya. Jalan pintas muncul, karena ambisi yang besar, tetapi tanpa didasari kapasitas, kemampuan, atau kecerdasan dalam meraih kesempatan sehingga diupayakan dengan  jalan menipu, memalsu, atau mengintimidasi.  Fenomena zaman edan, yang dikatakan pujangga Jawa, Ranggawarsita yang hidup pada abad ke 19 benar-benar menjadi kenyataan. Dalam _Serat Kalatidha_ Ranggawarsita menuliskan dalam Bahasa Jawa yang apabila diterjemahkan menyatakan:  Pada zaman edan, seseorang akan merasa kesulitan dalam bertindak yang benar, mau tidak mau ikut gila, tidak sampai hati. Apabila tidak ikut gila maka tidak akan dapat kebagian.  Orang baik dimusuhi, dijauhi, orang jahat didekati dan jadi teman.  Orang baik ditindas dan dikucilkan, orang jahat diberi jabatan. Apakah ini yang disebut Nabi Muhammad SAW namanya akhir zaman. Sabda Nabi Muhammad SAW: _Dan sungguh Allah akan melemparkan di dalam hatimu sifat” Wahn”_. Sahabat bertanya: _Wahai Rasulullah apa itu “Al Wahn?._ Rasulullah menjawab, _Cinta dunia dan benci kematian_ (HR Abu Dawud). Pada lain kesempatan Rasulullah berkata: _Tidak akan terjadi kiamat sampai diutusnya para dajjal (kecil), para pendusta, jumlahnya hampir 30 orang, seluruhnya mengaku dirinya utusan Allah_ (HR Muslim dan lainnya).  Perbuatan jahat dipandang sebagai suatu hal lumah, perbuatan baik dinyatakan tidak lumrah atau abnormal. Masyaallah. 
Akhir-akhir sudah dipandang sebagai hal umum, seorang lelaki atau prempuan yang berambisi untuk menjadi gubernur, walikota, bupati, kepala dinas, atau anggota dewan harus mempunyai segepok uang. Terlebih lagi, perebutan jabatan tersebut tidak diikuti kemampuan dan kapasitasnya sehingga pejabat yang memegang kekuasaan. Padahal jabatan adalah amanah. Jabatan  khalifah sebagaimana dalam hadits dinyatakan pernah ditawarkan kepada bumi, gunung, langit, dan makhluk lainnya tetapi ditolak karena takut khianat. Sungguh manusia sangat bodoh menerimanya. Allahpun kemudian memberikan anugrahnya ilmu kepada manusia agar dapat mengemban Amanah tersebut. Hanya sayang, ambisi besar untuk mendapatkan jabatan tersebut harus dibayar dengan kepalsuan dan kebohongan.  Diaturlah adanya suara palsu yang dibeli dengan segepok uang, ijazah palsu yang dibuat di percetakan illegal.  Oleh karena diawali dengan jalan pintas, maka perjalananpun menjadi berliku-liku, delik sana sini, sesat dan menyesatkan.  Keberkahan dan anugerah yang diharapkan hilang, berganti dengan musibah.  Diberitakan seorang dosen berambisi menjadi guru besar, tetapi dengan jalan pintas. Seorang guru besar harus mempunyai kapasitas dan kemampuan dalam menuliskan ide dan gagasannya dalam sebuah jurnal atau media penelitian global dan terakreditasi sebagai sesuatu yang baru. Namun karena ambisi besar, maka dicarilah jalan pintas untuk mempunyai terbitan artikel dengan cara yang tidak resmi dan tidak diakui. Namun, upaya jalan pintas tersebut akhirnya terkuak, maka betapa malu dan sedihnya. Namun penyesalan selalu datang terlambat.   
Benang merah dari semua kisah ini diatas boleh jadi sebagai upaya meraih mimpi besar, Namun sayang  tidak diikuti ketekunan, kerja keras, sikap pantang menyerah, tegar menghadapi kesulitan, dan sportif untuk berkompetisi. Sifat dan sikap poeieitf ini terbukti membawa banyak orang menembus batas sosial, ekonomi, bahkan geografis seperti yang ditunjukkan para pejuang, pahlawan, guru-guru, dan orang-orang besar yang banyak di sekitar kita. Cerita-cerita para pejuang perlu dijadikan bacaan para generasi muda, karena ia mencerminkan kenyataan hidup jutaan orang yang berjuang naik kelas, dan menjadi inspirasi bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang mau berproses. 
Sudirman Said, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) era 2014-2016 dalam tulisannya di media online ANTARA, 12 menceritakan seorang anak manusia  yang bernama  Zahra diterima di empat universitas top dunia dan memilih melanjutkan studi ke New York University. Hal yang mengejutkan, bukan hanya Zahra yang berprestasi. Kakaknya, Khaidar Khamzah, pada tahun 2023 diterima di 13 universitas terbaik di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada; dan akhirnya lulus dari University of Toronto, Kanada. Mereka tumbuh dalam keluarga sederhana, ayah mereka seorang petani, Ibunya Bu Khotimah lulusan madrasah tsnanawiyah. Tentu saja, meraih pendidikan terbaik dari kampus kelas dunia tidak ada dalam jangkauan mereka. Jangankan kuliah di luar negeri, meneruskan pendidikan sampai SMA saja sudah merupakan perjuangan luar biasa. Namun di tengah segala keterbatasan, Zahra dan Khamzah membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan kompetisi, ternyata mereka bisa menjangkau cakrawala dunia.
Kisah lainnya dari keluarga petani yang bernama Saepudin, mempunyai seorang putra bernama Angga Fauzan, CEO MySkill, salah satu platform edutech yang berkembang pesat di Indonesia. Angga berasal dari keluarga kurang mampu. Dahulu orang tuanya berjualan ayam goreng di Pasar Kramat Jati, Jakarta untuk menopang hidup keluarga. Digusur dari keramaian ibu kota, mereka harus pulang ke kampung halaman di Boyolali dan tinggal di bekas kandang kambing. Namun keterbatasan tidak mematahkan semangatnya. Fauzan belajar keras hingga diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari sana, wawasannya terbuka luas, dan ia berhasil meraih beasiswa ke University of Edinburgh, Skotlandia. Sepulangnya ke Tanah Air, Angga bekerja di sejumlah startup sebelum akhirnya mendirikan MySkill dan mendapatkan investasi dari East Ventures. Lewat perusahaannya, Angga ingin membantu lebih banyak pemuda dari latar belakang serupa. “Saya ingin menolong lebih banyak Angga-Angga lainnya agar bisa meraih mimpinya,” ujarnya.
Kisah-kisah ini menyuarakan satu hikmah penting: proses adalah hukum alam yang tidak bisa dihindari. Sebaliknya, metode jalan pintas terbukti sering membawa musibah. Cara jalan pintas, menerobos tahapan normal bukan saja mencederai nilai-nilai kejuangan, tetapi juga membawa risiko urusan-urusan penting yang ditangani oleh pribadi yang tidak memiliki kapasitas memadai. Bila kita buka mata dan buka hati, kisah-kisah perjuangan juga dialami oleh putra-putri para pemimpin bangsa kita sejak dahulu. Tidak ada proses yang melompat, tidak ada jalan pintas, meski bisnis yang diurus adalah milik orang tuanya sendiri. Tidak ada kebanggaan dan keunggulan tanpa perjuangan, dan tidak ada perjuangan tanpa proses.  Kita belajar dari bangsa-bangsa besar, yang percaya pada keringat, bukan pada garis keturunan atau dinasti . Mari rawat keyakinan bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Dan mereka yang membajak proses, cepat atau lambat, akan tertinggal oleh sejarah. Allah SWT berfirman: _Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia melihat (balasan)nya_ (QS. Al Zalzalah:7-8).  _Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar_ (QS. Al Baraqah:9). Waalahu’alam bis shawab.

Muhammad Noor
Yogyakarta, 07 Agustus 2025

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...