_Serba-Serbi #26_
Jin, setan, dan iblis sering disama-artikan karena mereka tidak bisa dilihat dengan mata telanjang oleh manusia. Sama-sama dikenal sebagai makhluk gaib, makhluk halus atau makhluk asral. Para ulama dan pemikir Islam berbeda pendapat dalam menyikapinya. Misalnya Ibnu Sina, pemikir Islam dan filsuf yang hidup abad ke 11, tidak percaya adanya Jin. Di masyarakat kita juga terpecah ada yang percaya ada yang tidak.
Jin dari Bahasa Arab, terdiri dari tiga huruf (jim, nun, dan nun) artinya ketersembunyian atau ketertutupan. Orang yang tertutup akalnya (gila) disebut majnun juga terdiri dari akar huruf yang sama (min, jim, dan nun). Bayi yang masih tertutup dalam rahim ibunya disebut janin, juga dari akar huruf yang sama (jim, nun, nun). Demikian juga Junnah (dari akar huruf yang sama), artinya perisai. Roh dinamai juga Janan, sesatu yang masih misteri, tertutup (Dikutib dari buku Yang Halus dan Tak Terlihat, JIn dalam Al Quran, Quraish Syihab, 2010).
Dalam Al Qur’an, Jin dipersonafikasi sebagai makhluk yang diciptakan dari api tanpa asap (nyala api), memiliki akal, tersembunyi, dan mempunyai bentuk bermacam bentuk. Misalnya bmenyerupakan bentuk binatang seperti harimau, buaya, macan yang biasa disebut sebagai buaya jadian, macan jadian dan lainnya. Para ulama, berdasarkan sikap dan perilakunya membagi jin dalam dua kelompok, yaitu (1) jin yang beriman, mendapat petunjuk dan (2) jin kafir atau sesat. Jin dapat berinteraksi dengan manusia, dan sebagian mereka dapat berperan sebagai setan menyesat dan menjerumuskan manusia. Firman Allah SWT: _Dan tidaklah Aku meciptakan jin dan manusia supaya mereka beribadah kepadaKu_ (QS. Adz-Dzariyat:56). Jin berdasarkan Al Qur’an dinyatakan dalam firman Allah SWT: _Katakanlah (Hai Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan Jin telah mendengarkan (Al-Qur’an yang kubaca). Lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kamipun beriman padanya dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Tuhan kami”_ (QS. Al-Jinn: 1-2)
Sejak lama penduduk asli bangsa baik di Amerika (seperti bangsa Indian), Australia (bangsa Aborigin), Afrika (bangsa Barbar, San) dan Asia (bangsa Han). Di Indonesia, kita kenal suku-suku pedalaman atau asli seperti Dayak, Kubu, Asmat dan lainnya mengenal atau menganut kepercayaan adanya makhluk halus (animesme) yang sering dituhankan atau disembah. Hampir semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) percaya adanya jin dan setan. Dalam pertunjukan tari persembahan kita sering melihat bagaimana masuknya roh-roh para leluhur, nenek moyang sehingga menimbulkan “kerasukan” seperti kehilangan akal (kegilaan).
Fenomena kerasukan jin atau setan ditandai hilangnya kesadaran (gangguan akal) akibat asap kotor yang masuk ke tubuh sehingga kejang-kejang, tidak sadar diri, dan keluar keringat yang banyak, kata Ali Al Qorni. Fenomena kerasukan jin dapat juga akibat jiwa yang jahat, seperti halu, khayalan, angan-angan (halusinasi) akibat kekaguman kepada kecantikan seorang gadis atau ketampanan seorang lelaki. Fenomena kedua ini sulit diobati, karena disebabkan masuknya roh-roh (jin) jahat ke dalam organ tubuh manusia, yang seharus dilawan dengan roh-roh baik sehingga roh atau jin jahat tersebut keluar. Kondisi ini diperlihatkan oleh Ustadz Danu, yang nama aslinya Ir. Djoko Ismanu Herlambang, seorang guru spiritual dari Yogykarta sering tampil di TV dan Youtube dalam mengobati orang-orang yang kerasukan. Banyak orang tidak percaya akan hal ini, kata Ali bin Muhammad bin Mahdi Al Qorni (1993) dalam bukunya “Menghindari Godan Syaitan”.
Dikutib dari buku yang ditulis Al Qorni di atas diceritakan bahwa Ibnu Qoyyim, murid Ibnu Talmiyah, mengatakan seorang (lelaki) yang kerasukan jin datang kepada Ibnu Talmiyah. kemudian dibacakanlah dari Surah Al Mukmin, ayat 110. Kemudian dipukulkannya tongkat di batang leher lelaki tersebut bertubi-tubi. Di sela-sela pukulan tersebut, roh halus yang ada di dalam tubuh si korban, tersebut melalui suara (mulut) si korban berkata: _Saya mencintainya_. Ibnu Talmiyah menyahut: _Dia tidak mencintaimu._ Roh jahat berkata: _Jika demikian saya akan meninggalkannya._ Ibnu Talmiyah menyahut: _Tidak. Kamu harus keluar daripadanya._ Roh jahat berkata: _Baik saya akan keluar daripadanya._ Selanjutnya si lelaki kemudian sadar, duduk, menoleh kanan kiri seraya bertanya: _Apa yang telah menimpa saya ?._ Ternyata si lelaki tersebut tidak merasakan bahwa dirinya telah dipukuli berkali-kali dan juga tidak menyadari ada jin prempuan yang masuk ke tubuhnya.
Cerita lain dari Syaikh Ahmad Qathan, seorang ulama Timur Tengah di Kuwait, bercerita tentang rumah baru keluarganya yang baru ditempati diganggu jin, yaitu setiap menyajikan makanan di meja selalu ada segumpal tanah atau abu. Demikian juga pada setiap makanan yang ditaruh dipiring selalu ada tanah. Setiap keluarga yang datang atau duduk-duduk, kepala mereka selalu seperti ada yang menaburi tanah. Syekh Ahmad dapat informasi bahwa gangguan jin tersebut terjadi biasa pada hari Rabu, maka beliapun datang pada hari tersebut dengan beberapa orang. Setelah masuk, berwudhu beliau dan rombongan membacakan surat Al-Baqarah sampai di Ayat Kursi , tiba-tiba seorang wanita tua berpakaian aba’ah (semacam jubah) yang duduk di serambi depan memperlihatkan perilaku yang aneh. Dari kepalanya keluar tanah melalui pakaiannya tanah tersebut jatuh ke bumi dna hilang. Setelah selesai membaca surat Al Baqarah tersebut, berhentilah tanah yang keluar dari kepala wanita tadi dan Wanita tersebut kemudian menghilang tak kembali lagi. Sabda Nabi SAW: _Dan sesungguhnya Jin itu merasuk ke dalam diri seseorang, lalu dia berbicara dengan ucapan orang yang dimasukinya_.
Jin jahat atau setan pernah datang kepada Abu Hurairah RA pada saat ditugaskan menjaga zakat di bulan Ramadhan. Seorang lelaki datang mengambil makanan lalu melemparkannya kepada Abu Hurairah. Orang tersebut berkata: _Sesungguhnya saya sangat membutuhkan makanan ini untuk keluarga saya yang sangat mendesak._ Lantas dilepaskan dan dibiarkanlah oleh Abu Hurairah dia pergi. Pagi hari dilaporkanlah kejadian malam tersebut kepada Rasulullah. Rasulullahpun berkata: _Dia telah berdusta kepadamu dan akan kembali lagi._ Benar, hari berikutnya si lelaki itupun datang lagi hingga sampai ke tiga kalinya. Abu Hurairah mengingatkan orang tersebut akan dilaporkan kepada Rasulullah. Namun orang tersebut berkata: _Maukah, aku beritahu beberapa kalimat yang berguna bagimu”. Kalimat apa itu?_, kata Abu Hurairah. Orang tersebut berkata: _Jika kamu hendak tidur bacalah Ayat Kursi (QS Al-Baqarah: 255) sampai selesai. Maka kamu akan dapat penjagaan dari Allah dan jin (setan) tidak akan mengganggumu hingga pagi hari._ Setelah pagi Abu Hurairah ditanya Rasulullah tentang pertemuannya dengan seorang lelaki tersebut. Rasulullahpun berkata: _Ia telah berkata benar, sekalipun ia sendiri adalah pendusta besar. Tahukah kamu siapa dia yang datang dan mengajarimu itu?. Tidak ya Rasulullah_, kata Abu Hurairah. _Itulah Setan,_ kata Rasulullah. _Subhanallah. Lahaula wala quwata illabillah._
Banjarbaru, 2 Juni 2025
Muhammad Noor
No comments:
Post a Comment