_Serba Serbi#28_
Di tengah suasana Iedul Adha, Jum’at 10 Dzulhijjah tersebar berita wafatnya ustadz Muhammad Yahya Waloni, yang kita kenal sebagai ustadz yang tegas dan berani. Jejak digital almarhum dalam berdakwah dapat kita lacak di media sosial dan juga media cetak. Almarhum dan keluarga memeluk Islam pada tahun 2006 lalu. Sebelumnya almarhum sebagai pendeta Kristen yang sempat menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Makasar dan terlibat pembangunan Univesitas Muhammadiyah di Sorong. sebelumnya sempat ikut bagian dalam pembanunan Universitas Otto Geissler (UOG) di Papua sebelum masuk Islam. Almarhum wafat pada umur 54 tahun, sedang menyampaikan khotbah Jumat di masjid Minasa Upa, Makasar yang merupakan tempat kelahirann almarhum. Wafat pada bulan yang mulia, hari yang mulia, dan detik-detik waktu yang mulia. Insyaallah husnul khotimah. Dalam konsep Islam husnul khotimah adalah harapan setiap orang, yaitu meninggal dalam keadaan taat, melakukan amal saleh, dan menjauhi larangan yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Husnul dari Bahasa Arab artinya baik dan khotimah artinya akhir atau penutupan. Jadi husnul khotimah artinya kesudahan atau penutupan yang baik.
Husnul Khotimah merupakan harapan tertinggi bagi seorang muslim berupa ketenangan, dalam keadaan beribadah antara lain dapat mengucapkan “lailaha illallah”, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Rasulullah SAW bersabda: _Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah lailahaillahah, maka dia akan masuk surga_ (HR. Abu Daud). _Talqinkanlah (tuntunlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan “lailaha illallah”_ (HR. Muslima). Di kalangan ulama sering dikatakan beberapa keadaan meninggalnya seseorang dinyatakan husnul khotimah apabila meninggal pada saat melaksanakan ibadah haji (berhaji) atau pada saat sholat.
Para sahabat Nabi, masa awal-awal Islam berebut mencari syahid dalam perang sehingga ditakuti orang-orang kafir, para musuh Islam karena orang-orang yang berperang umumnya ingin pulang dalam kondisi hidup. Sebaliknya para pejuang Islam ingin wafat dalam perang karena ada jaminan dari Allah SWT surga. Firman Allah SWT: _Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi jamu tidak menyadarinya_ (QS Al-Baqarah: 154) . Firman Allah SWT lainnya menyatakan: _Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup disisi Tuhannya mendapat rezeki_ (QS. Ali- Imran: 169).
Pengertian Husnul Khotimah mencakup: (1). Menjauhi segala yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah atau mentaati segala perintahNya dengan baik dan menjauhi segala laranganNya; (2). Mengucapkan “syahadat sebelum pmeninggal”, dikatakan sebagai tanda seseorang meninggal dalam keadaaan baik; (3). Beriman dan beramal saleh. Seseorang yang menjalani kehidupan dengan penuh keimanan dan berbuat baik kepada sesama; (4). Menghadapi kematian dengan tenang. Artinya sesorang yang memepersiapkan kematiannya dengan baik; dan (5) Mati syahid. yaitu meninggal karena mempertahankan agama dan kebenaran. Sebagian orang menginginkan atau berharap dapat meninggal dunia pada saat shalat. Mahmud bin Abdul Malik Al-Zughbi (2015) menulis buku dalam Bahasa Arab, telah diterjemahkan yang berjudul _“Wafat Saat Sholat”_, menceritakan 73 kisah kematian yang indah. Nabi SAW bersabda : _Ingatlah kematian dalam shalatmu, maka ia akan membagus shalatnya_ (HR
Kematian sebuah misteri, tidak ada yang tahu kapan dan dimana? Sabda Nabi SAW : _Orang yang paling banyak mengingat mati paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang yang cerdas_ (HR. Bukhari). Beberapa kisah berikut barangkali dapat menjadi inspirasi kita bagaimana mereka menyambut Husnul Khotimah dikutib dari buku yang disusun Mahmud di atas.
Seorang sopir angkutan umum berkebangsaan Pakistan bernama Nadirsyah meninggal dunia dalam keadaan sujud ketika solat subuh di sebuah masjid. Nadirsyah diketahui orang yang rajin dan senang berjamaah di masjid, walapun sedang musim dingin. Musim dingan ternyata memperparah penyakit dalam yang dideritanya. Seorang imam dan khatib di Masjid Aisyah, bernama Izzuddin, lulusan Univesitas Al-Balqa, Pakistan, berumur 30 tahun. Pada saat sholat, setelah jamaah rapi, Izzuddin memasuki mihrab imam tidak seperti biasa, dia mengatakan kepada jamaah: _“Shalatlah seperti shalat perpisahan”._ dengan kata lain sholat terakhirmu. Setelah takbir dan membaca Al-Fatihah, diakhir ayat makmum mengucapkan “Aamiiiin”. Jamaah kemudian menunggu surah apa yang sekiranya dibaca imam. Harapan jamaah ternyata sia-sia karena imam Izzuddin ambruk, wafat saat mengimami sholat di rakaat pertama. Masya Allah.
Seorang warga kebangsaan Amerika Serikat, ditugaskan di Arab Saudi untuk mengelola sebuah kantor cabang sebuah perusahaan besar. Setiap hari kerja, dia bolak balik antara kantornya di pusat kota dan kembali ke apartemen tempat tinggalnya. Suatu Ketika dia bertemu dengan penulis buku di atas (Mahmud bin Abdul Malik). Dia mencurahkan isi hatinya tentang kekagumannya dengan orang-orang di sekitarnya yang setiap mendengar azan (yang juga baru dia ketahui sebagai panggilan untuk shalat) berbondong-bondong mereka menuju satu tempat yaitu masjid besar. Keadaan ini dia nikmati dari apartemen tinggalnya, dan terpikir baginya betapa senangnya kalau dia adalah bagian dari kumpulan orang tersebut. Di kantornya, dia perhatikan menjelang tutup kantor waktu sholat ashar gelombang orang-orang menuju masjid besar tersebut menjadi pemandangan yang dia nikmati sehingga akhirnya setiap waktu sholat bagi dia mengasyikan untuk diperhatikan. Suatu waktu menjelang waktu sholat Isya dia belanja di sebuah toko. ketika transaksi pembayaran mau dilakukan. Si pedagang berkata: _Nanti saja setelah selesai sholat Isya_. Aku sempat marah kepada si pedagang, katanya kepada penulis, Namun si pedagang dengan ramah memberikan jawaban yang sama “nanti saja setelah sholat Isya”. Akupun menunggu, kata orang Amerika tersebut hingga sampai selesai sholat Isya dengan membiarkan tokonya dalam keadaan terbuka. Hatiku bergolak, selama menunggu kata si Amerika: _Mengapa shalat sedemikian penting?, hingga si pedagang membiarkan kesempatan transaksi begitu saja._ Singkat cerita warga Amerika tersebut akhirnya memeluk Islam.
Beberapa hari kemudian si bule tersebut meminta kepada penulis untuk membimbingnya melaksanakan umrah ke tanah suci. Setelah melangsungkan umrah berdua, mereka menunggu masuknya sholat isya di depan Ka’bah. Penulis buku diatas merasakan adanya aura kekhusyukan dan kerinduan mendalam bagi si mualaf dalam sholatnya. Memasuki rakaat ke tiga dari sholat isya, si mualaf masih bersimpuh dalam tasyahud awal. Bahkan Ketika imam bertakbir ruku rakaat ke tiga, si mualaf tersebut masih dalam posisi duduk. Walaupun jamaah disampingnya menyentuh kepalanya untuk memberi tanda, tetapi sang mualaf tidak bergeming. Sampai akhir sholat, imam mengucapkan salam dan jamaah di sebelah menyapa, si muallaf tidak ada jawaban. Sang mualaf Amerika tersebut ternyata sudah wafat sejak duduk tasyahud awal dari sholat isya terakhirnya. Masya Allah. _Waalahu’alam bis shawab._
Banjarbaru. 8 Juni 2025
Muhammad Noor
No comments:
Post a Comment