_Serba-serbi#27_
Pada suatu ketika Saidina Umar bin Khatab meminta nasehat kepada Nabi Muhammad SAW, apa yang dia harus lakukan karena sulit untuk khusyu dalam sholat?. Selalu diganggu urusan dunia dan pikiran yang lain yang tidak terkait debgan sholat. Nabi menjawab : _Umar, jika kamu mau memasuki sholat, pusatkan perhatianmu kepada Allah SWT dan jangan kamu memikirkan hal-hal lain selain Allah SWT._ Firman Allah SWT: _Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu_ (QS. Al Baqarah: 45).
Khusyu dalam sholat menjadi impian dan harapan bagi setiap muslim. Khusyu adalah sholat yang diterima Allah SWT. Khusyu menurut Imam Syafi’e adalah hati dan pikirannya bebas dari segala hal dunia. Dapat ditandai dengan secara fisik tatapan (matanya) menghadap ke tempat sujud. Imam Hanafi mengatakan secara fisik matanya ke tempat sujud apabila berdiri, ke jari kaki apabila ruku, dan ke hidung apabila sujud. Gerakan badan yang berlebihan dan bacaan yang tergesa-gesa mengganggu kekhusyuan, bahkan dapat masuk kategori tidak khusyu.
Menurut Syaikh Muhammad Sholeh al-Munajjib dalam bukunya _33 Kiat Mencapai Khusyu_ untuk mencapai khusyu hanya ada 2 pokok yang perlu: (1) Memperhatikan hal-hal yang mendatangkan khusyu, dan (3) menolak hal-hal yang menghilangkan khusyu. Perihal yang mendatangkan khusyu ada delapan: (1) Mempersiapkan diri (sadar) untuk sholat; (2) Tuma’ninah atau tertib dan hati-hati, tidak tergesa-gesa; (3) Ingat mati; (4) Mengerti dan Menghayati bacaan; (5) Meyakini Allah memperhatikan; (6) Bertabir, tertutup, ruang tersendiri; (7) Mengarahkan penglihatan kearah sujud; dan (8) Memohon perlindungan dari gangguan setan. Perihal yang menganggu khusyu antara lain yaitu : (1) Menngunakan pakaian atau atribut yang mengganggu; (2) Sedang menahan keinginan, misalnya mau ke toilet; (3) Berhadapan dengan benda yang mengganggu seperti di muka TV; dan (4) Berkeras hati, termasuk suka berdebat/bertengkar sehingga kurang penghayatan dalam sholat. Rasulullah SAW bersabda: _Ada seseorang melaksanakan sholat , tetapi tidak dicatat baginya (diterima oleh Allah SWT) seperenam atau sepersepuluhnya._
Khusyu dalam sholat tidak dapat dicapai secara tiba-tiba atau sekonyong-konyong , memerlukan proses mental (hati) yang terus menerus. Rizal Ibrahim (2007) dalam bukunya _Rahasia Sholat Khusyuk_ mengutarakan bahwa khusyu dapat hadir apabila hati telah diliputi nur Allah SWT dalam segala gerak gerik tubuh disepanjang sholat. Nur Allah SWT bisa hadir setelah jiwa atau hati jauh dari maksiat, makan dan minum jauh dari barang haram dan riba, sikap dan perbuatan jauh dari sifat-sifat tercela. Hati yang dibawa sholat untuk menghadap Allah perlu dipersiapkan benar-benar hati yang bersih dan terlepas dari lintasan-lintasan yang mengganngu.
Berikut beberapa sikap dan tabiat Nabi SAW, para sahabat, dan aulia sehingga membawa kepada jalannya khusyu. Dalam satu Riwayat Nabi SAW pernah sholat memakai jubah hitam yang dihadiahkan Abu Jahm, tetapi kemudian beliau bersabda sehabis sholat: _Kembalikanlah jubah ini pada Abu Jahm, karena telah menyebabkan aku lengah dari sholatku tadi_. Suatu waktu Nabi SAW meminta sahabat meperbaiki tali sandalnya. Sehabis sholat beliau meminta untuk memasang kembali tali sandalnya yang lama karena beliau memadangnya (teringat) tali sandalnya yang baru saat sholat. Sahabat Nabi, Abu Bakar as Sidiq, kalau sedang sholat menyerupai tiang atau tonggak, sangat tenang, rukuknya laksana tonggak, sampai-sampai burung pipit yang hinggap, seakan-akan benda yang tak bernyawa. Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib pernah berkata: _Apabila engkau tidak dapat melihat (menghadirkan) Allah, maka berpikirlah (anggaplah) Allah melihat engkau_. Dalam Tafsir Kasyf al-Asrar Miabah diceritakan Ali bin Abi Thalib terkena anak panah menembus kaki beliau hingga mengenai tulangnya. Alipun meminta agar anak panah tersebut dicabut ketika ia tengah menunaikan sholat Ashar, Benar saja, ketika beliau sholat, seorang tabib (dokter) datang untuk mencabut anak panah tersebut. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sama sekali tidak merasa kesakitan saking khusyuknya sholat. Tatkala beliau memberi salam, Ali berujar: sekarang lukaku agak ringan. Khusyu seperti inilah yang tak ingin dilewatkan sahabat kerika sho;at. Dalam Taurat tertulis: _Wahai anak Adam janganlah kamu merasa terhalang berdiri di hadapanKu (sholat) sambil menangis. Akulah Allah yang menghampiri hatimu dengan cara yang gaib, kamu melihat cahayaKu_.
Seorang sahabatnya sahabat Nabi yang bernama Rabi Ibn Khaysan selalu menundukan kepala dan menahan pandangannya. Selama 20 tahun ia sering mengunjungi rumah Ibnu Mas’ud. Setiap kali ia datang pelayan ibnu Mas’ud selalu berkata pada Ibnu Mas’ud: _Teman Anda yang buta telah datang”_ Ibnu Mas’ud hanya tertawa. Sungguh seandainya Rasulullah melihatmu, beliau niscaya akan senang sekali. Rabi Ibn Khaysan sebetulnya tidak buta, tetapi karena takut apa yang dilihatnya akan mempengaruhi khusyunya dalam sholat sehingga dia selalu menundukan kepalanya. Ar Rabi mengatakan: _Setiap kali aku memulai sholat pasti hatiku dirisaukan oleh apa yang kukatakan dan apa yang dikatakan kepadaku_. Amir ibn Abdullah dikenal orang yang khusyu dalam sholatnya. Adakalanya putrinya yang sedang memainkan rebana (gendang) di hadapannya yang sedang sholat, tetapi sama sekali dia tidak merasa terganggu. Kaum wanita yang di sekitarnya saling bercakap-cakap sekehendak hatinya, namun Amir ibn Abdullah tidak merasa terganggu karena ia tidak mendengar semuanya itu pada saat dia sholat. Pada suatu saat Amir ibn Abdullah ditanya: _Wahai Amir adakah hatimu membisikan sesuatu ketika sedang sholat?_ Jawabnya: _Ya aku diingatkan bahwa aku kini sedang berdiri berhadapan dengan Allah SWT dan aku pasti menuju akhirat._ Kemudian mereka bertanya lagi: _Apakah terlintas dalam hatimu sesuatu urusan dunia, seperti yang kami alami?_ Jawabnya: _Seandainya tubuhku dicabik-cabik oleh sejumlah tombak, lebih kusukai daripada mengalami seperti yang kalian alami_. Kemudian diriwayatkan pula Amir ibnu Abdullah berkata: _Seandainya tirai gaib tersingkap bagiku, niscaya tidak sedikitpun keyakinanku akan berubah_. Masya Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman: _Dengan mengerjakan sholat, hamba-hambaKu akan memperoleh keselamatan dan dengan sholat sunat (nafilah) hamba-hambaKu akan mendekat kepadaKu._ Pada sabda Nabi SAW yang lain dikatakan: _Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah dan jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau musafir_ (HR Ibnu Umar Faidah). Pada suatu kesempatan Nabi SAW ditanya seorang tentang sholatnya yang sering terganggu dan banyak memikirkan dunia. Rasullullah terdiam dan menangis. Kemudian beliau menjawab: _Wahai saudaraku. Jika engkau meninggalkan sholat hanya takut karena tidak khusyu, maka setan akan menang. Tetapi jika engkau tetap berusaha shalat meskipun pikiranmu teralihkan, ketahuilah bahwa setiap kali engkau berusaha kembali kepada Allah dalam shalatmu, saat itulah Allah menyambutmu. Mendengar ucapan Rasulullah diatas para sahabat tidak mampu menahan tangis. Kemudian Rasullullah melanjutkan: _Bayangkanlah seorang ibu yang melihat anaknya yang sedang latihan berjalan, sang anak sering jatuh dan tersandung. Apakah sang ibu marah? Tidak. Ia justru akan berlari menghampirinya, mengangkatnya, dan mendekapnya erat. Itulah Allah. Dia lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya. Selama engkau terus kembali, Allah akan selalu menerimamu_. Masyaallah. Barakallahu fiikum ajma’in.
Banjarbaru, 04 Juni 2025
Muhammad Noor
No comments:
Post a Comment