Pengelola Masjid

Tuesday, June 10, 2025

The Power of Sedekah

_Serba-serbi #29_

Sedekah dalam pengertian umum, tidak dibatasi dalam bentuk materi, tetapi juga non materi seoerti senyum, doa, ilmu, atau  waktu untuk membantu orang lain. Jadi sedekah adalah pemberian sebagian harta, uang, barang, atau sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan rhido atau kedekatan kepada Allah SWT. Senyum yang tulus termasuk sedekah sabda Nabi SAW:  _Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu_ (HR. At-Tirmidzi).  Dengan tersenyum, kita dapat membuat orang lain merasa bahagia dan nyaman, serta menciptakan suasana persahabatan dan kekeluargaan. Sabda Nabi SAW yang lain: _Menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan adalah sedekah bagimu_ (HR. Bukhari dan Muslim).  Firman Allah SWT: _Wahai orang-orang yang beriman. Infakanlah Sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak adalagi syafa'at. Orang-orang kafir itulah orang yang dzalim_ (QS. AL Baqarah: 254). 
Sedekah disebut juga amal, infaq, atau persembahan, namun ada sekit perbedaan dengan zakat. Kalau zakat sebuah kewajiban bagi yang mampu untuk memberikan sebagian hartanya kepada pihak yang membutuhkan. Misalnya zakat mal atau zakat harta, zakat fitrah. Zakat bersifat wajib dibayar apabila sudah sampai waktu (hisab) dan jumlah (ukuran) harta yang dimiliki.  Sedangkan sedekah bersifat tidak wajib, dikerjakan boleh, tidak dikerjakan juga boleh, tetapi sangat dianjurkan agama, antara lain agar keadaan sosial dan ekonomi masyarakat merata, tidak ada jurang kesenjangan di masyarakat sehingga tercipta masyarakat yang stabil,  aman, dan sejahtera.  Dalam kehidupan baik para aulia maupun orang biasa ditunjukan bahwa sedekah mempunyai kekuatan hebat (the power of) antara lain sedekah menolak bala, memperbanyak harta kekayaan, memperbaiki keadaan sosial dan hubungan kerja sama dengan orang lain, menghapuskan dosa. 
Dalam Hikayat Sufi diceritakan. Abu Abdullah Al-Harits ar-Razi, seorang ulama hadits yang hidup di Persia (Iran) pada abad ke 3 hijrah (810-878)  berkata: Allah telah memberikan kepada seorang nabiNya wahyu . Sesungguhnya Aku telah memutuskan umur si Fulan (lelaki) bahwa setengah umurnya dalam keadaan miskin dan setengahnya lagi dalam keadaan kaya. Karena itu suruhlah dia memilih mana yang di dahulukan.  Nabipun memanggil lelaki (Fulan) tersebut dan menyampaikan pesan wahyu Allah tersebut kepadanya. Lelaki itupun berkata: _Aku akan musyawarahkan dulu kepada isteriku_. Istrinya memutuskan dan berkata: Pilihlah kaya di awal usia kita. Lelaki itupun berkata kepada isterinya: Miskin setelah kaya sangat menderita, tetapi kaya setelah miskin itu sangat nikmat dan bahagia. Istrinya berkata: Tidak, dalam hal ini aku tidak mengikutimu. 
Lelaki itupun kembali kepada Nabinya dan berkata: _Aku memilih setengah usiaku pertama keadaan kaya_. Maka Allah SWT kemudian meluaskan kehidupan dunianya dan membukakan pintu-pintu kekayaan kepadanya. Istrinya kemudian berkata kepada suaminya: _Sayang, apabila engkau ingin agar kenikmatan ini langgeng, maka engkau harus berbuat dermawan kepada makhluk Allah_.  Maka, bila lelaki itu membuat baju, maka dia juga membuatkan baju yang sama untuk seorang fakir. Singkat cerita waktu yang ditentukan setengah usianya sudah habis.  Maka Allah mewahyukan kepada Nabi zaman itu. “_Sesungguhnya Aku telah memutuskan bahwa setengah umurnya terakhir dalam keadaan miskin”, tetapi Aku melihat dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat yang Aku berikan.  Dan kesyukuran tersebut mengharuskan tambahan, maka kabarkanlah kabar gembira kepadanya bahwa Aku memutuskan di sisa usianya tetap dalam keadaan kaya_.     Firman Allah SWT: _Sesungguhnya orang-orang yang memebnarkan (Allah dan RasulNya) baik laki-laki maupun prempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak_ (QS. Al-Hadid: 18). 
Menurut  Sufyan ats-Tsauri, ulama sufi yang hidup di Kufah (Irak) abad ke 7 (716-718) mengatakan ketika turun ayat 160 Surah Al-An’am: _Barang siapa membawa kebaikan, maka baginya sepuluh padanan_. Nabi SAW bersabda: _Ya Allah, tambahkanlah untuk umatku_. Kemudian turun ayat yang berbunyi: _Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dam setiap tangkai terdapat serratus butir_(QS. Al Baqarah: 261).  Nabi SAW kemudian bersabda Kembali: _Ya Allah, tambahkanlah untuk umatku_. Kemudian turun ayat yang berbunyi: _Barang siapa memberikan pinjaman dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakannya dengan kelipatan yang banyak_ (QS. Albaqarah: 245). ).  Nabi SAW kemudian bersabda: _Ya Allah, tambahkanlah untuk umatku_.  Kemudian turunlah ayat yang berbunyi: _Sesungguhnya Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang berbuat sabar, tanpa hitungan_ (QS. Az-Zumar: 10). Sampai disini Rasulullah berhenti.  
Para sahabat Nabi berlomba-lomba dalam bersedekah. Pada saat kaum muslimin diperangi dan ingin menyusun kekuatan Nabi meminta bantuan kepada para sahabatnya. Umar bin Khatab datang dengan setengah kekayaannya, tetapi ternyata dikalahkan oleh Abu Bakar as_Sidiq yang menyerahkan seluruh kekayaannya sehingga dikenal dialog Nabi dengan para sahabatnya, tatakala Abu Bakar ditanya Nabi: _Wahai Abu Bakar, apakah yang kau sisakan buat engkau dan keluargamu_. Abu Bakar menjawah: _Hanya Allah dan RasulNya yang ku sisakan_. Masya Allah. Tabaraqallah.  Di riwayatkan bahwa seseorang pada hari kiamat berada di bawah naungan sedekahnya. Dalam Riwayat yang lain disebutkan sedekah seorang muslim dapat menolak pelakunya dari bahaya di dunia, siksa kubur, dan siksa pada hari kiamat.  Diriwayatkan seorang penatu (tukang cuci dan setrika pakaian; laundry) lewat dihadapan Nabi Isa AS dan pengikutnya. Nabi Isa AS kemudian berkata kepada pengikutnya: _Hadirilah jenazah orang ini saat sholat zuhur nanti_.  Lewat waktu zuhur orang tersebut ternyata belum meninggal. Jibril turun dan Nabi ISA AS bertanya kepada Jibril: _Bukankah engkau telah memberitahukan kepada ku kematian penatu atau tukang laundry tersebut?_. Jibril menjawab:  _Benar, tetapi setelah itu dia bersedekah dengan 3 potong roti,sehingga dia diselamatkan dari kematian_. Sedekah ternyata tidak saja dapat mencegah musibah, tetapi juga memperpanjang umur. Baraqallah.      
Banjarbaru, 10 Juni 2025
Muhammad Noor

No comments:

Post a Comment

JALAN KE SURGA

Catatan Ramadhan 1447#4 Lirik syair gubahan Rabiatul Adawiyah seorang sufi yang masyhur, sering dilantunkan para santri sangat menyentuh hat...